
SURABAYA, 22 MEI 2026 – VNNMedia – Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan tekanan serius terhadap dunia usaha dan daya beli masyarakat.
Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto mengatakan kurs rupiah yang menyentuh Rp17.646 per dolar AS pada Kamis (21/5/2026) memicu kenaikan biaya produksi di berbagai sektor industri nasional.
“Pelemahan rupiah memberikan dampak berlapis terhadap dunia usaha, mulai dari kenaikan biaya produksi hingga melemahnya daya saing industri,” ujar Adik di Surabaya.
Menurutnya, industri nasional masih sangat bergantung pada bahan baku impor yang dibeli menggunakan dolar AS. Bahan baku seperti besi, baja, plastik, bahan kimia, hingga komponen elektronik masih didominasi impor dengan tingkat ketergantungan lebih dari 70 persen.
Kondisi itu membuat sejumlah sektor seperti manufaktur, farmasi, otomotif, dan tekstil menjadi yang paling terdampak.
Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi tekanan margin keuntungan karena biaya produksi meningkat, sementara harga jual produk belum bisa langsung dinaikkan ke pasar. “Para pelaku usaha mulai menahan stok bahan baku dan melakukan efisiensi produksi karena khawatir daya beli masyarakat terus menurun,” katanya.
Adik memperingatkan kondisi tersebut bisa memicu ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) apabila pelemahan rupiah berlangsung lama.
“Pendapatan masyarakat tetap, sementara harga barang naik. Pengusaha akhirnya membatasi impor bahan baku dan mengurangi produksi. Kalau berlangsung lama, ancaman PHK akan terus mengintai,” ujarnya.
Sebagai strategi bertahan, banyak pengusaha memilih mengurangi margin keuntungan dibanding langsung menaikkan harga produk kepada konsumen.
“Mungkin sementara ini pengusaha memilih mengurangi keuntungan dulu, belum menaikkan harga. Tapi kondisi seperti ini juga tidak bisa berlangsung lama,” katanya.
Meski begitu, Adik melihat pelemahan rupiah juga membuka peluang bagi produk lokal untuk lebih kompetitif dibanding barang impor, khususnya sektor pertanian dan peternakan.
“Produk lokal seperti jeruk atau durian bisa lebih kompetitif dibanding produk impor. Jawa Timur juga punya kekuatan besar di sektor pertanian dan peternakan,” jelasnya.
Namun ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi daerah tetap berpotensi terkoreksi apabila gejolak ekonomi global terus berlangsung.
Karena itu, Kadin Jatim meminta pemerintah melakukan realokasi anggaran dari program yang dinilai belum berdampak signifikan, seperti pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), ke sektor yang lebih mampu menggerakkan ekonomi dan menyerap tenaga kerja.
“Pemerintah harus berani merealokasi anggaran ke proyek infrastruktur karena bisa menyerap tenaga kerja dan memicu perputaran ekonomi,” tegasnya.
Selain itu, Adik juga mendorong pemerintah memperkuat bantuan sosial dan bantuan tunai untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi.
“Yang paling diperlukan sekarang adalah bansos dan bantuan tunai supaya daya beli masyarakat tetap terjaga dan dunia usaha ikut terbantu,” pungkasnya.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News