Jawa Timur Bidik Posisi Pemain Utama Industri Halal Dunia

YOGYAKARTA, 5 JUNI 2026 – VNNMedia – Jawa Timur terus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pengembangan ekonomi syariah dan industri halal nasional.

Didukung ribuan pesantren, jutaan pelaku UMKM, kawasan industri halal, serta jaringan logistik yang menjangkau seluruh Indonesia, Jawa Timur dinilai memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama dalam rantai nilai halal global.

Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat menjadi keynote speaker pada Forum Ekonomi Regional Jawa Halal Ecosystem 2026 yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Menurut Khofifah, konsep halal saat ini telah berkembang jauh melampaui aspek sertifikasi produk. Halal kini menjadi bagian dari gaya hidup global sekaligus sektor ekonomi masa depan yang memiliki nilai bisnis sangat besar.

“Halal tidak lagi hanya soal kepatuhan syariah, tetapi telah menjadi standar kualitas, keamanan, higienitas, keterlacakan produk, dan keberlanjutan yang diakui dunia,” ujar Khofifah.

Ia menjelaskan, tren global menunjukkan semakin banyak negara, termasuk negara nonmuslim, yang berlomba mengembangkan industri halal, pariwisata ramah muslim, dan keuangan syariah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia menempati posisi pertama dunia pada sektor Muslim Fashion, peringkat ketiga untuk sektor Halal Food serta Media and Recreation, dan peringkat keempat pada sektor farmasi dan kosmetik halal.

Menurut Khofifah, capaian tersebut harus menjadi momentum bagi daerah-daerah potensial untuk meningkatkan peran sebagai produsen sekaligus penggerak industri halal dunia.

“Jawa Timur tidak boleh hanya menjadi pasar. Kita memiliki kekuatan besar dari sisi pesantren, UMKM, industri manufaktur, hingga konektivitas logistik untuk menjadi pemain utama dalam industri halal global,” katanya.

Sebagai salah satu pusat ekonomi nasional, Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai gerbang perdagangan Indonesia bagian timur. Pelabuhan Tanjung Perak melayani 24 dari 41 rute tol laut nasional dan menjadi penopang distribusi logistik ke 19 provinsi di kawasan timur Indonesia.

Selain itu, Jawa Timur ditunjang oleh 12 ruas jalan tol, dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), 13 kawasan industri, satu kawasan industri halal, 37 pelabuhan, serta tujuh bandara yang memperkuat daya saing sektor industri dan perdagangan.

Kinerja ekonomi Jawa Timur juga menunjukkan tren positif. Pada triwulan pertama 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen.

Jawa Timur juga menjadi salah satu kontributor terbesar ekonomi nasional dengan sumbangan 14,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan 25,16 persen terhadap perekonomian Pulau Jawa.

Dalam pengembangan industri halal, Jawa Timur terus memperkuat infrastruktur pendukung, salah satunya melalui pengembangan Halal Industrial Park Sidoarjo (HIPS) atau Safe n Lock yang telah memperoleh rekomendasi sebagai bagian dari penguatan ekosistem industri halal nasional.

Kekuatan lain yang dimiliki Jawa Timur berasal dari sektor pesantren. Saat ini terdapat 7.425 pondok pesantren dengan lebih dari 773 ribu santri yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota.

Sebanyak 1.420 pesantren telah mengimplementasikan program One Pesantren One Product (OPOP), sementara hampir 4.000 pesantren telah menerapkan digitalisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi pesantren.

“Pesantren memiliki peran strategis dalam pengembangan ekonomi syariah. Melalui program OPOP, kami mendorong lahirnya santripreneur, pesantrenpreneur, dan sociopreneur yang mampu menggerakkan ekonomi umat,” ujarnya.

Pemprov Jawa Timur juga terus memperluas ekosistem halal melalui program inkubasi usaha syariah. Sepanjang 2025, sebanyak 2.492 pelaku usaha mengikuti program tersebut dan hampir seluruhnya mengalami peningkatan omzet.

Sementara itu, fasilitasi sertifikasi halal yang dilakukan pemerintah daerah telah menghasilkan lebih dari 552 ribu usaha dan sekitar 1,41 juta produk bersertifikat halal.

Penguatan ekosistem halal juga didukung keberadaan 15 Lembaga Pemeriksa Halal, 87 Lembaga Pendamping Proses Produk Halal, 15 laboratorium halal, serta ratusan rumah potong hewan halal yang tersebar di berbagai daerah.

Hasilnya, jumlah usaha halal di Jawa Timur meningkat 42,59 persen dibandingkan tahun sebelumnya atau bertambah lebih dari 165 ribu usaha.

Daya saing produk halal Jawa Timur juga semakin kuat di pasar internasional. Nilai ekspor produk halal Jawa Timur tercatat mencapai USD 3,22 miliar dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor makanan dan minuman, disusul tekstil, farmasi, dan kosmetik.

“Tujuan akhirnya adalah memastikan manfaat ekonomi halal dapat dirasakan masyarakat sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur dalam mendukung Indonesia sebagai pusat ekonomi halal dunia,” pungkasnya.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News