
London, Kamis 26 Maret 2026-VNNMedia- Border Forensics menuduh perjanjian terkait penanganan imigran ilegal antara Prancis dan Inggris tahun 2023, sebagai pemicu lonjakan angka kematian imigran, seperti dilansir dari Antara
Border Forensics sendiri merupakan organisasi investigasi nirlaba di Jenewa yang berfokus pada pemantauan dan pendokumentasian kekerasan serta pelanggaran hak asasi manusia di wilayah perbatasan
“Sebuah laporan menunjukkan bahwa kebijakan ‘stop the boats’ pemerintah Inggris, serta lebih dari £625 juta yang diberikan kepada Prancis untuk mencegah keberangkatan, secara langsung berkontribusi terhadap lonjakan tajam kematian orang-orang yang mencoba menyeberangi Selat Inggris dengan perahu kecil,” bunyi pernyataan organisasi itu yang dirilis pada hari Rabu (25/3)
“Sejak akhir 2023 hingga akhir 2025, sebanyak 112 orang dipastikan meninggal atau hilang dalam upaya penyeberangan, dan sembilan lainnya dilaporkan hilang. Pada 2024 saja terdapat 76 kematian yang terkonfirmasi, lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya,” tambah laporan tersebut
“Hal ini terjadi meskipun terdapat 9.000 orang lebih sedikit yang melakukan perjalanan dengan 415 perahu lebih sedikit pada 2024 dibandiing 2022,” tulis mereka
Organisasi itu menengarai jika tindakan agresif polisi Prancis terhadap imigran ilegal, berkontribusi atas kenaikan tersebut, yang dianggap pembenaran untuk mendapat tambahan dana dari Inggris
Kesepakatan Migrasi Inggris-Prancis Tahun 2023
Inggris dan Prancis memiliki serangkaian kesepakatan untuk mengatasi krisis imigran yang melintasi Saluran Inggris (English Channel). Fokus utama kerja sama ini adalah menghentikan penyeberangan ilegal menggunakan perahu kecil yang sering kali membahayakan nyawa.
Kesepakatan terbaru yang paling signifikan ditandatangani pada Maret 2023, di mana Inggris setuju untuk membayar Prancis sekitar £478 juta (sekitar Rp9,5 triliun) selama tiga tahun. Dana tersebut digunakan untuk membiayai peningkatan patroli keamanan di pantai-pantai Prancis, pengadaan teknologi pemantauan seperti drone dan perangkat pengintai canggih, serta pembangunan pusat penahanan baru bagi para migran di wilayah Prancis
Prancis juga sepakat untuk menambah jumlah personel kepolisian di sepanjang garis pantai utara guna mencegah perahu-perahu tersebut lepas landas. Selain itu, kedua negara membentuk pusat koordinasi bersama untuk berbagi informasi intelijen guna menghancurkan jaringan penyelundupan manusia yang mengorganisir penyeberangan tersebut
Meskipun biaya yang dikeluarkan sangat besar, kebijakan ini terus menjadi tantangan politik bagi kedua negara karena jumlah migran yang mencoba menyeberang tetap fluktuatif. Inggris berkepentingan menekan angka kedatangan untuk memenuhi janji politik ‘stop the boats’, sementara Prancis berupaya agar wilayahnya tidak menjadi titik kumpul permanen bagi para pengungsi yang ingin menuju daratan Britania
Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News