Stunting Turun Signifikan di Jatim, Program PASTI 2025 Catat Hasil Positif

SURABAYA, 27 APRIL 2026 – VNNMedia – Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI) 2025 di Jawa Timur mencatat penurunan signifikan angka stunting, terutama di Kabupaten Malang dan Ngawi. Hal ini berkat kolaborasi lintas lembaga dan intervensi berbasis komunitas.

Upaya percepatan penurunan stunting di Jawa Timur menunjukkan hasil menggembirakan. Melalui Program PASTI 2025, angka stunting di sejumlah wilayah intervensi berhasil ditekan secara signifikan, didukung peningkatan status gizi balita dan perubahan perilaku pengasuhan.

Program Lead PASTI Jawa Timur dari Yayasan Cipta, Christine Lora Egaratri, mengungkapkan bahwa capaian utama program terlihat dari meningkatnya pemantauan tumbuh kembang anak. Cakupan penimbangan baduta di Posyandu pada 2025 mencapai 88,44 persen.

Menurutnya, keberhasilan ini tidak lepas dari intervensi Pos Gizi DASHAT yang menggabungkan edukasi dan praktik langsung melalui kelas makan. Pendekatan tersebut dinilai efektif mendorong perubahan perilaku orang tua dalam pengasuhan anak.

Partisipasi masyarakat dalam program ini juga sangat tinggi. Di Kabupaten Malang, tingkat keikutsertaan Pos Gizi DASHAT mencapai 98,4 persen, sementara di Ngawi bahkan menembus 100 persen.

Selain itu, pendampingan intensif oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) berhasil menjangkau 2.745 ibu hamil dan ibu/pengasuh baduta. Hasilnya, tingkat pemahaman terkait ASI eksklusif, MP-ASI, hingga risiko kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil mencapai 97–98 persen.

Bahkan, sekitar 80 persen ibu hamil dengan KEK yang mengikuti program mengalami kenaikan berat badan.

Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur, Sukamto, mengapresiasi capaian tersebut sebagai hasil dari kolaborasi berkelanjutan sejak 2023 antara BKKBN dan Yayasan Cipta.

Ia menyebut, program PASTI awalnya dijalankan di lima wilayah, kemudian difokuskan menjadi tiga daerah, yakni Lamongan, Ngawi, dan Malang. Pada 2025, intervensi tersisa di dua wilayah karena Lamongan dihentikan sementara.

Secara umum, prevalensi stunting di Jawa Timur juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan data 2024, angka stunting Jatim berada di level 14,7 persen, lebih rendah dibanding rata-rata nasional sebesar 19,8 persen.

Meski demikian, Sukamto mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari satu indikator. Ia mencontohkan Kabupaten Ngawi yang tetap memperoleh dukungan kebijakan fiskal meski penurunan stunting belum signifikan, karena indikator lain terpenuhi.

Menurutnya, keberhasilan penurunan stunting juga sangat ditentukan oleh penguatan kelembagaan, tata kelola program, serta konsistensi kolaborasi lintas sektor.

“Kolaborasi dan penguatan sistem di lapangan menjadi kunci agar penurunan stunting bisa berkelanjutan,” tegasnya.

Program PASTI pun diharapkan dapat terus menjadi model intervensi efektif dalam menekan stunting sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Jawa Timur.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News