
SURABAYA, 9 JUNI 2026 – VNNMedia – Harga beras di Jawa Timur masih terjaga di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) meski musim kemarau mulai berdampak pada berkurangnya pasokan hasil panen. Pemerintah melalui berbagai program intervensi pangan, seperti Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Bantuan Pangan, serta distribusi Minyakita, dinilai berhasil menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho, mengatakan beras menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian khusus seiring berakhirnya masa panen di sejumlah daerah.
Menurut Langgeng, hingga awal Juni 2026 realisasi penyaluran beras SPHP di Jawa Timur telah mencapai 65.648 ton atau sekitar 66 persen dari target 98.767 ton. Capaian tersebut menjadi yang terbesar kedua secara nasional.
“Penyaluran SPHP terus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga beras medium di pasaran agar tetap berada di bawah HET,” ujarnya, Minggu (7/6/2026).
Ia menjelaskan, harga beras SPHP yang keluar dari gudang Bulog ditetapkan Rp11.000 per kilogram, sementara harga jual maksimal kepada konsumen sebesar Rp12.500 per kilogram. Angka tersebut masih berada di bawah HET beras medium yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp13.500 per kilogram.
Selain menggelontorkan beras SPHP, pemerintah juga menyalurkan Bantuan Pangan kepada 5.638.478 keluarga penerima manfaat di Jawa Timur. Setiap penerima memperoleh bantuan berupa 20 kilogram beras dan empat liter minyak goreng.
Untuk alokasi Februari-Maret yang saat ini masih berlangsung, Bulog telah mendistribusikan 112.769 ton beras kualitas medium dan sekitar 22,5 juta liter minyak goreng kepada masyarakat penerima bantuan.
Langgeng menilai program tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, tetapi juga berkontribusi menekan permintaan beras dan minyak goreng di pasar sehingga harga tetap terkendali.
Di sisi lain, distribusi Minyakita juga terus diperkuat. Selama periode April hingga Juni 2026, Bulog Jawa Timur telah menyalurkan 2.239.405 liter Minyakita, dengan sekitar 64 persen distribusi dilakukan melalui pasar rakyat.
Hasil pemantauan Tim Satgas Pangan Polda Jawa Timur bersama Bulog, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surabaya di Pasar Soponyono dan Pasar Wonokromo menunjukkan harga beras medium masih berada di kisaran Rp12.000 per kilogram.
Sementara harga beras premium tercatat sekitar Rp14.900 per kilogram atau masih sesuai dengan HET yang berlaku. Adapun Minyakita dijual Rp15.700 per liter, sesuai harga eceran tertinggi yang
telah ditetapkan pemerintah.
Meski pasokan relatif aman, sejumlah pedagang mengharapkan ketersediaan Minyakita dapat ditambah karena tingginya permintaan masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Langgeng menjelaskan alokasi Domestic Market Obligation (DMO) Minyakita untuk BUMN pangan seperti Perum Bulog, ID Food, dan Agrinas Palma hanya sebesar 35 persen, sedangkan 65 persen sisanya disalurkan melalui sektor swasta.
Ia juga mengungkapkan bahwa komoditas makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi di Jawa Timur. Dari kelompok tersebut, cabai rawit menjadi pemicu inflasi terbesar, disusul komoditas beras.
Karena itu, Bulog berharap berbagai program stabilisasi pangan yang saat ini berjalan dapat terus menjaga ketersediaan pasokan, mengendalikan harga beras dan minyak goreng, sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat di tengah tantangan musim kemarau.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News