
PONOROGO, 24 April 2026 – VNNMedia – Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, Masun mengatakan, curah hujan di Ponorogo diperkirakan mulai menurun hingga maksimal 50 mm per dasarian pada Dasarian III bulan April, lalu berlanjut pada Dasarian I dan Dasarian II bulan Mei. Kalau pola itu berlangsung sesuai prakiraan, maka Ponorogo secara klimatologis sudah mulai memasuki musim kemarau pada akhir April hingga awal Mei.
Masih kata Masun, sepanjang musim kemarau 2026 nanti, curah hujan di Ponorogo diperkirakan hanya berada di kisaran 201 hingga 500 milimeter. Angka ini lebih rendah dibanding musim kemarau 2025 yang masih berada di kisaran 400 milimeter. Dengan kondisi tersebut, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan lebih kering dan cenderung mendekati pola musim kemarau pada 2024 lalu.
Dalam siaran tertulisnya Pemkab Ponorogo, Jum’at (24/4/2026), panjang musim kemarau di Ponorogo diperkirakan berlangsung selama 16 hingga 19 Dasarian atau setara sekitar lima sampai enam bulan. Artinya, musim kemarau berpotensi berlangsung mulai Mei hingga sekitar September atau Oktober. Setelah itu memasuki masa pancaroba menuju musim hujan lagi dan perlu kesiapsiagaan sejak awal.
Di tahun 2026, BPBD Ponorogo memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan. Di Kecamatan Slahung, titik rawan antara lain berada di Desa Duri, Wates, Tugurejo, Senepo, Caluk, dan Slahung. Dari beberapa desa tersebut, Duri dan Wates selama ini termasuk yang paling awal mengajukan permintaan distribusi air bersih.
Kekeringan juga kerap dialami Kecamatan Sooko meliputi Suru, Klepu, dan Ngadirojo. “Sementara di Kecamatan Bungkal, wilayah yang perlu diwaspadai antara lain Desa Belang dan Munggu,” ujarnya.
Masyarakat diimbau untuk mulai meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan menghemat penggunaan air dan menjaga kelestarian lingkungan. Kata Masun, upaya menjaga vegetasi dan menanam tanaman yang mampu menyimpan cadangan air juga menjadi bagian penting dalam menghadapi musim kemarau. “Yang terpenting adalah kesiapsiagaan sejak dini. Kalau alam kita jaga dan penggunaan air kita bijak, maka dampak musim kemarau bisa kita tekan bersama,” pungkasnya.
Telusuri berita lain di Google News VNNMedia