
London, Selasa 19 Mei 2026-VNNMedia- Standard Chartered mengumumkan rencana restrukturisasi besar-besaran dengan memangkas lebih dari 7.000 pekerjaan dalam empat tahun ke depan
Langkah strategis ini diambil seiring dengan peningkatan adopsi kecerdasan buatan (AI) dan target pertumbuhan profitabilitas perusahaan
Dilansir Channel News Asia, dalam pengumumannya pada Selasa (19/5), bank yang berpusat di London ini menyatakan akan mengurangi 15% fungsi korporatnya pada tahun 2030. Dari total 52.000 karyawan di posisi tersebut, pemangkasan ini akan berdampak pada lebih dari 7.000 pekerja
Secara global, lembaga pemberi pinjaman yang berfokus pada kawasan Asia-Pasifik dan Afrika ini memiliki hampir 82.000 staf
CEO Standard Chartered, Bill Winters, menegaskan bahwa pengurangan ini bukan sekadar pemangkasan biaya, melainkan langkah otomatisasi sistem
Menurutnya, perusahaan tengah mengganti modal manusia bernilai rendah dengan modal finansial dan investasi, sembari meningkatkan keterampilan sebagian staf yang bertahan
Posisi yang paling terdampak nantinya berada di pusat back-office bank, seperti di Chennai, Bangalore, Kuala Lumpur, dan Warsawa
Melalui langkah ini, Standard Chartered menjadi salah satu bank global besar pertama yang secara resmi memangkas ribuan staf dengan alasan integrasi AI demi merampingkan operasi
Pengumuman ini disambut positif oleh pasar, di mana saham bank yang terdaftar di Hong Kong langsung naik 2,5% dalam perdagangan pagi
Transformasi ini dilakukan di tengah keberhasilan bank mencapai target keuangan jangka menengah tahun 2026 setahun lebih cepat dari jadwal
Kini, fokus perusahaan beralih ke bisnis dengan margin keuntungan yang lebih tinggi, seperti pengelolaan kekayaan klien kelas atas dan perbankan korporasi-investasi
Bersamaan dengan pengumuman restrukturisasi, Standard Chartered juga resmi menunjuk Manus Costello sebagai CFO tetap yang baru
Meski mencatatkan pertumbuhan yang kuat, StanChart tetap waspada terhadap ketidakpastian geopolitik di pasar utamanya
Bank ini bahkan telah menyisihkan cadangan pencegahan sebesar US$190 juta pada kuartal pertama terkait konflik di Timur Tengah yang berpotensi membebani para peminjam akibat lonjakan biaya energi
Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News