
SURABAYA, 14 MEI 2026 – VNNMedia – Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman mengungkapkan stok beras nasional saat ini mencapai 5,3 juta ton, angka yang disebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Pemerintah bahkan memproyeksikan cadangan beras nasional meningkat menjadi 5,5 juta ton pada akhir Mei 2026.
Pernyataan itu disampaikan Amran saat menghadiri Forum General Discussion (FGD) bertema “Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan untuk Cadangan Pangan Pemerintah” di Gudang Bulog Jatim Kompleks Pergudangan Romokalisari, Surabaya, Rabu (13/5/2026).
“Alhamdulillah hari ini kita mencapai stok tertinggi dalam sejarah yaitu 5,3 juta ton. Mudah-mudahan akhir bulan bisa mencapai 5,5 juta ton dan ini tertinggi selama Republik ini merdeka,” ujar Amran.
Menurut Amran, melimpahnya stok beras nasional turut berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan petani. Ia menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) saat ini menjadi yang tertinggi dalam 33 tahun terakhir berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
“Kita lihat sekarang kesejahteraan petani meningkat, NTP-nya tertinggi selama 33 tahun sesuai data BPS,” katanya.
Selain itu, Amran mengklaim Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian juga mengalami lonjakan signifikan pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pertumbuhan sektor pertanian naik dari 0,67 persen menjadi 5,7 persen.
“Sekarang naik 5,7 persen, tertinggi selama 25 tahun dan mungkin tertinggi sepanjang sejarah,” ujarnya.
Amran menegaskan capaian produksi dan surplus beras nasional bukan sekadar klaim pemerintah, melainkan merujuk pada data lembaga nasional maupun internasional. Ia menyebut FAO dan pemerintah Amerika Serikat sama-sama mencatat produksi beras Indonesia mencapai sekitar 34,6 juta ton dengan surplus hingga 4 juta ton.
“FAO mengatakan produksi kita 34,6 juta ton. Dari Amerika Serikat juga sama. Jadi tiga data dunia maupun nasional mengatakan produksi sekitar 34 juta ton dan surplus 4 juta ton,” tegasnya.
Ia pun membandingkan kondisi saat ini dengan era Presiden Soeharto pada 1984 ketika Indonesia memperoleh penghargaan dari FAO dengan stok Bulog sebesar 2,6 juta ton. Kini, stok Bulog disebut telah menembus lebih dari 5 juta ton sehingga pemerintah harus menyewa gudang tambahan.
“Kapasitas gudang hanya 3 juta ton. Sekarang 5 juta ton sudah sewa 2 juta ton,” kata Amran.
Di tengah tekanan pangan global akibat krisis energi dan pupuk, Amran menilai posisi Indonesia relatif aman. Bahkan, Indonesia disebut mampu mengekspor pupuk ke Australia dan menerima permintaan impor beras dari Malaysia.
“Di saat pupuk langka di tingkat dunia, Indonesia menurunkan harga pupuk 20 persen dan itu tidak pernah terjadi selama Republik ini berdiri,” ujarnya.
Ia juga menyoroti penyederhanaan distribusi pupuk yang kini dinilai lebih efektif. Jika sebelumnya distribusi diatur oleh ratusan regulasi, kini penyaluran pupuk disebut langsung dari Kementerian Pertanian ke produsen dan petani.
“Dulu ada 145 regulasi yang mengatur. Sekarang dari Menteri Pertanian ke produsen pupuk langsung ke petani, hanya tiga langkah,” katanya.
Sementara itu, Pimpinan Wilayah Bulog Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho mengatakan pihaknya terus menambah kapasitas pergudangan untuk menampung tingginya stok pangan selama musim panen.
Bulog Jatim saat ini telah menyewa 190 kompleks pergudangan dengan total 223 unit gudang tambahan berkapasitas sekitar 650 ribu ton. “Kalau panen masih banyak, kita akan menyewa lagi,” ujar Langgeng.
Secara keseluruhan, kapasitas gudang Bulog Jatim, baik milik sendiri maupun sewa, mencapai sekitar 1,7 juta ton. Adapun stok pangan yang saat ini dikuasai Bulog Jatim mencapai sekitar 1,3 juta ton.
Selain beras, Bulog Jatim juga menyimpan stok jagung sekitar 58 ribu ton. Penyaluran jagung melalui program SPHP untuk peternak ayam mulai dilakukan guna menjaga stabilitas harga pakan di pasaran.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News