Indonesia Dorong Rekonsiliasi ASEAN dan Penyelesaian Konflik Myanmar Lewat Dialog

CEBU, 10 MEI 2026 – VNNMedia – Indonesia menegaskan pentingnya penguatan stabilitas dan rekonsiliasi kawasan Asia Tenggara dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina. Isu krisis Myanmar hingga penyelesaian konflik kawasan melalui dialog menjadi perhatian utama dalam pertemuan para pemimpin ASEAN tersebut.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan para pemimpin ASEAN membahas perkembangan terbaru di Myanmar pascapelaksanaan pemilu dan pembentukan pemerintahan baru di negara tersebut.

Menurut Sugiono, sejak awal Indonesia menekankan bahwa proses politik di Myanmar harus berjalan inklusif, mampu menjawab persoalan dalam negeri, serta berorientasi pada perdamaian dan stabilitas kawasan.

“Dari awal posisi Indonesia adalah jika pemilu tersebut berlangsung, pemilu yang dilangsungkan harus inklusif, kemudian mampu meng-address masalah-masalah yang ada di sana, kemudian juga mampu membawa perdamaian dan menciptakan situasi yang lebih baik,” ujar Sugiono dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026).

Indonesia juga menegaskan pentingnya implementasi five point consensus ASEAN sebagai landasan utama penyelesaian krisis Myanmar. Dalam pembahasan KTT ASEAN, para pemimpin kawasan turut menyoroti sejumlah langkah positif dari pemerintahan baru Myanmar yang dinilai patut diapresiasi.

Sugiono mengungkapkan, salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah pembebasan lebih dari enam ribu tahanan politik serta perubahan status tahanan terhadap Aung San Suu Kyi.

“Setelah pemilu, ada beberapa gesture positif yang dinilai perlu diapresiasi, di antaranya pembebasan sekitar enam ribu lebih tahanan politik serta perubahan status tahanan Aung San Suu Kyi,” katanya.

Menurut Sugiono, perkembangan tersebut menjadi bagian dari upaya memenuhi komitmen dalam five point consensus ASEAN.

Karena itu, negara-negara ASEAN sepakat untuk terus memberikan perhatian dan keterlibatan aktif dalam membantu Myanmar menemukan jalan penyelesaian konflik secara damai.

“Semua sepaham bahwa sebagai satu keluarga di kawasan ASEAN, negara-negara anggota harus terus memberikan perhatian dan terus engage Myanmar untuk menemukan jalan yang mereka tentukan sendiri dalam memperbaiki situasi negaranya,” ujarnya.

Selain membahas Myanmar, Indonesia juga mendorong pendekatan dialog dan negosiasi dalam menyikapi berbagai persoalan perbatasan di kawasan Asia Tenggara, termasuk ketegangan antara Thailand dan Kamboja.

Dalam forum tersebut, Indonesia menilai penyelesaian konflik kawasan sebaiknya tidak dilakukan dengan mempertajam perbedaan, melainkan melalui kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat masing-masing negara.

“Daripada mempertajam perbedaan, lebih baik mencari hal-hal positif yang bisa dikerjasamakan dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tutur Sugiono.

Ia menambahkan, pendekatan dialog, negosiasi dan kerja sama selama ini menjadi prinsip yang terus dijalankan Indonesia dalam mengelola berbagai persoalan kawasan dan hubungan antarnegara di Asia Tenggara.

KTT ke-48 ASEAN di Cebu sendiri menjadi forum strategis bagi para pemimpin negara Asia Tenggara untuk memperkuat stabilitas kawasan, kerja sama ekonomi, serta penyelesaian berbagai isu geopolitik regional yang berkembang.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News