
JAKARTA, 27 APRIL 2026 – VNNMedia – Pemerintah mulai menguji penggunaan biodiesel B50 di sektor perkeretaapian sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Program ini ditargetkan mulai diterapkan secara nasional pada 1 Juli 2026.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mempercepat implementasi bahan bakar biodiesel B50 guna mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Salah satu langkah terbaru adalah uji coba penggunaan B50 pada sektor perkeretaapian yang digelar di Yogyakarta, Senin (27/4/2026).
B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dan 50 persen solar. Program ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam membangun kemandirian energi nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi di tengah dinamika global.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa kebijakan B50 merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto dalam rangka mengurangi ketergantungan impor BBM dan mendorong pemanfaatan energi alternatif dalam negeri.
Menurut Bahlil, uji coba B50 telah berlangsung hampir enam bulan di berbagai sektor, seperti alat berat, transportasi laut, dan kendaraan logistik. Hasilnya sejauh ini dinilai cukup baik dan siap menuju tahap implementasi nasional.
“Per 1 Juli nanti kita mulai implementasi B50 secara nasional. Ini bagian dari upaya pemerintah mencari sumber energi alternatif yang lebih mandiri,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa uji coba B50 telah dimulai sejak Desember 2025 di berbagai sektor, dan sektor perkeretaapian menjadi tahap akhir pengujian.
Uji coba di sektor kereta api dilakukan dalam dua skema. Pertama, pengujian genset kereta di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, yang akan beroperasi selama 2.400 jam perjalanan pulang-pergi Yogyakarta–Jakarta. Kedua, pengujian pada lokomotif di Surabaya yang akan berlangsung selama enam bulan.
Eniya optimistis hasil pengujian pada kereta api akan berjalan baik, mengingat karakter mesin kereta yang tergolong low speed engine, berbeda dengan kendaraan bermotor yang memiliki kecepatan mesin lebih tinggi.
Namun demikian, evaluasi teknis tetap akan dilakukan, terutama terkait performa filter mesin dan jadwal perawatannya, dengan melibatkan PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Direktur Pengelola Sarana Prasarana PT KAI, Heru Kuswanto, menyatakan pihaknya mendukung penuh uji coba tersebut. Menurutnya, implementasi B50 tidak hanya mendukung ketahanan energi nasional, tetapi juga menjadi bagian dari transisi menuju sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.
“Kami mendukung penuh selama aspek keselamatan, keamanan, dan keandalan operasional tetap terjaga melalui evaluasi teknis yang berkelanjutan,” katanya.
Melalui uji coba ini, pemerintah berharap implementasi B50 dapat berjalan optimal di seluruh sektor transportasi, sekaligus mempercepat peralihan menuju energi bersih dan berkelanjutan di Indonesia.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News