Seni Tradisi Surabaya Makin Hidup, Pemkot Perkuat Dukungan untuk Ludruk dan Reog

SURABAYA, 21 APRIL 2026 – VNNMedia – Eksistensi seni tradisi seperti ludruk dan reog di Surabaya terus menunjukkan perkembangan positif. Dukungan Pemerintah Kota (Pemkot) melalui berbagai program dan fasilitas dinilai berperan besar dalam menjaga keberlanjutan kesenian tradisional tersebut.

Pendiri Komunitas Ludruk Luntas, Robert Bayonet, mengungkapkan bahwa perhatian Pemkot, khususnya melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata Surabaya, sudah dirasakan oleh para pelaku seni.

“Dukungan terhadap seni tradisi, khususnya ludruk, cukup baik. Walaupun belum maksimal, tapi sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan dan pelestarian di masyarakat,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Salah satu bentuk dukungan konkret adalah program “Ludruk Merdeka” yang digelar secara keliling di 10 kampung. Program ini menjadi sarana memperkenalkan kembali ludruk kepada masyarakat sekaligus memperluas jangkauan penonton.

Dari sisi fasilitas, Robert menyebut akses penggunaan ruang kesenian seperti Gedung Nasional Indonesia dan Balai Pemuda Surabaya relatif mudah selama mengikuti prosedur yang berlaku. Ia berharap ke depan regulasi tetap ramah bagi pelaku seni.

Selain itu, rencana transformasi Dewan Kesenian menjadi Dewan Kebudayaan Surabaya dinilai sebagai langkah strategis untuk memperluas perhatian terhadap berbagai sektor budaya. “Kalau menjadi Dewan Kebudayaan, cakupannya akan lebih luas dan bisa lebih dekat dengan pelaku seni,” katanya.

Robert juga melihat tren pertumbuhan kelompok ludruk di Surabaya terus meningkat dari tahun ke tahun. Ia berharap kehadiran Dewan Kebudayaan nantinya dapat memberikan pendampingan lebih intensif bagi komunitas seni tradisi.

Hal senada disampaikan Ketua Perhimpunan Unit-Unit Reog Surabaya (Purbaya), Budi Sutrisno. Ia mendukung transformasi kelembagaan tersebut karena diyakini akan mendorong kemajuan kesenian, termasuk reog.

“Kalau untuk kemajuan kesenian, kami tentu sangat mendukung,” ujarnya.

Ia juga berharap Pemkot tidak hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga membuka ruang dialog seperti sarasehan agar pelaku seni dapat memahami arah kebijakan pemerintah.

Menurutnya, hubungan antara komunitas reog dan Pemkot selama ini berjalan baik, dengan berbagai kegiatan seni yang rutin mendapatkan dukungan fasilitas. “Setiap ada agenda, biasanya difasilitasi,” ungkapnya.

Budi menambahkan, perkembangan reog di Surabaya saat ini semakin menggeliat. Pertunjukan reog kerap digelar secara rutin, terutama pada akhir pekan dan hari libur, sebagai bagian dari daya tarik pariwisata kota.

Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan kolaborasi dengan komunitas, seni tradisi di Surabaya diharapkan terus tumbuh dan mampu menjadi identitas budaya sekaligus daya tarik wisata yang kuat.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News