Sleep Apnea Ancam Jantung dan Stroke, Jangan Sepelekan Ngorok

SURABAYA, 18 MEI 2026 – VNNMedia – Rasa kantuk berlebihan di pagi hingga siang hari meski sudah tidur cukup bisa menjadi tanda gangguan sleep apnea. Kondisi yang sering ditandai kebiasaan mendengkur atau ngorok ini ternyata dapat memicu risiko penyakit serius seperti stroke, hipertensi, hingga gangguan jantung.

Direktur Resindo Center For Healthy Sleep, Andini Ekawati, mengatakan banyak penderita sleep apnea tidak menyadari dirinya mengalami gangguan tidur berbahaya karena menganggap ngorok sebagai hal biasa.

“Pasien biasanya merasa sudah tidur cepat dan cukup lama, tapi bangun tidur tetap tidak segar dan gampang mengantuk lagi,” kata Andini di Surabaya, Minggu (17/5/2026).

Menurutnya, salah satu ciri sleep apnea adalah tubuh tetap lelah meski sudah beristirahat semalaman. Bahkan, sebagian penderita kembali mengantuk beberapa jam setelah bangun tidur.

Kondisi ini terjadi karena saat tidur, saluran napas penderita dapat tertutup berulang kali sehingga aliran oksigen ke tubuh terganggu. Dalam kasus tertentu, henti napas bisa terjadi puluhan hingga ratusan kali dalam satu malam tanpa disadari pasien.

“Sleep apnea ini disebut silent killer karena kejadiannya saat pasien tidur. Orang sering tidak sadar kalau napasnya berhenti berkali-kali,” ujarnya.

Andini menjelaskan, ketika kadar oksigen menurun akibat saluran napas tertutup, otak akan memaksa tubuh terbangun sesaat agar kembali bernapas. Proses itu membuat kualitas tidur menjadi buruk meski durasi tidur terlihat cukup.

Akibatnya, penderita berisiko mengalami gangguan konsentrasi, tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, hingga stroke.

Ia menambahkan, masyarakat perlu waspada jika dengkuran terjadi dalam semua posisi tidur, baik telentang, miring, maupun saat tertidur dalam posisi duduk. “Kalau semua posisi tetap ngorok, itu harus mulai dicurigai sebagai sleep apnea,” katanya.

Untuk memastikan kondisi tersebut, pasien dapat menjalani sleep diagnostic test menggunakan alat pemantau khusus yang merekam pola napas, detak jantung, kadar oksigen, dan aktivitas tubuh selama tidur.

Pemeriksaan ini salah satunya tersedia di Lab Pramita. Alat dipasang langsung di rumah pasien sehingga pemeriksaan dapat dilakukan tanpa perlu rawat inap.

“Pasien tidur seperti biasa di rumah, lalu datanya dianalisis keesokan harinya,” jelas Andini.

Ia menegaskan, penanganan sleep apnea tidak cukup hanya dengan obat-obatan. Penanganan utama dilakukan melalui perubahan pola hidup sehat hingga penggunaan alat bantu napas saat tidur untuk menjaga saluran pernapasan tetap terbuka.

Menurut Andini, penggunaan alat bantu napas dapat membantu kualitas tidur menjadi lebih baik, menjaga kadar oksigen tetap stabil, sekaligus mengurangi dengkuran.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak menganggap kantuk berlebihan dan kebiasaan ngorok sebagai hal sepele. “Ngorok bukan tanda tidur nyenyak. Itu justru bisa menjadi tanda adanya gangguan napas saat tidur,” pungkasnya.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News