
SURABAYA, 28 APRIL 2026 – VNNMedia – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyiapkan integrasi sistem “Satu Data Satu Peta” berbasis rekam medis elektronik untuk memperkuat pemantauan kesehatan masyarakat. Program ini menggabungkan data dari puskesmas hingga rumah sakit guna memetakan persebaran penyakit secara akurat.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, Billy Daniel Messakh, menjelaskan bahwa pengumpulan data dilakukan secara masif melalui 63 puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah Kota Pahlawan.
Menurutnya, proses pendataan dilakukan langsung ke masyarakat melalui program Home Visit. Data kebutuhan dasar kesehatan warga kemudian diinput secara real-time melalui aplikasi digital yang telah dikembangkan.
“Seluruh puskesmas bergerak bersama mengumpulkan data dari wilayah kerja masing-masing, lalu langsung dimasukkan ke sistem digital,” ujar dr Billy, Jumat (24/4/2026).
Program ini juga melibatkan Kader Surabaya Hebat (KSH) untuk memperluas jangkauan pendataan di tingkat komunitas. Seluruh data yang terkumpul akan dihimpun dalam sistem pusat (data warehouse) milik Dinkes untuk divalidasi, dianalisis, dan ditampilkan dalam bentuk dashboard.
Tak hanya dari puskesmas, integrasi data juga mencakup rekam medis elektronik dari rumah sakit milik Pemkot Surabaya, yakni RSUD Bhakti Dharma Husada, RSUD dr Mohamad Soewandhie, dan RSUD Eka Candrarini.
Melalui sistem ini, setiap pasien akan diberi label berdasarkan jenis penyakit, seperti hipertensi atau diabetes. Data tersebut kemudian dipetakan berdasarkan wilayah untuk mengetahui pola persebaran penyakit secara detail.
“Dari data itu kita bisa melihat penyakit tertentu tersebar di wilayah mana saja, sehingga memudahkan pengambilan kebijakan,” jelasnya.
Selain untuk pemantauan, data kesehatan terintegrasi ini juga akan dimanfaatkan sebagai dasar riset akademik guna menghasilkan solusi kesehatan yang lebih tepat sasaran dan berbasis bukti.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan pentingnya integrasi rekam medis tidak hanya di lingkungan Dinkes, tetapi juga melibatkan seluruh rumah sakit di Surabaya.
Ia berencana mengumpulkan seluruh direktur rumah sakit untuk membangun sistem bersama yang terintegrasi, sehingga pemetaan penyakit bisa dilakukan hingga tingkat wilayah terkecil.
“Dengan sistem ini, kita bisa tahu wilayah mana yang banyak kasus diabetes, jantung, atau penyakit lainnya,” ujar Eri.
Menurutnya, rekam medis elektronik juga berperan penting dalam memastikan pasien tetap terpantau, terutama bagi warga kurang mampu. Jika pasien tidak melakukan kontrol rutin, pemerintah dapat langsung melakukan kunjungan dan memberikan penanganan.
Meski demikian, Eri menegaskan bahwa penggunaan data tetap menjaga prinsip kerahasiaan medis dan hanya digunakan untuk kepentingan layanan kesehatan.
“Rekam medis tetap bersifat rahasia. Namun untuk kebutuhan pencegahan dan pelayanan kesehatan, penggunaannya diperbolehkan dalam koridor yang tepat,” tegasnya.
Melalui integrasi “Satu Data Satu Peta” ini, Pemkot Surabaya menargetkan upaya pencegahan penyakit dapat dilakukan lebih dini, terukur, dan berbasis data. “Pencegahan tentu lebih baik daripada pengobatan. Dengan data yang akurat, intervensi bisa dilakukan lebih cepat dan tepat,” pungkasnya.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News