Menko Perekonomian Airlangga Dorong Kolaborasi Energi AZEC Hadapi Krisis Pasokan Global

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto

YOGYAKARTA, 15 April 2026 — VNNMedia – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pentingnya penguatan kolaborasi energi antarnegara Asia Zero Emission Community (AZEC) untuk menghadapi gangguan pasokan energi global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.

Pernyataan itu disampaikan Airlangga saat mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam AZEC Plus Online Summit Meeting yang digelar secara daring, Rabu (15/4/2026), dan dipimpin langsung Perdana Menteri Jepang, Takaichi Sanae.

Pertemuan ini mempertemukan negara-negara mitra inti AZEC bersama sejumlah negara tambahan seperti Bangladesh, Timor-Leste, India, Korea Selatan, dan Sri Lanka, serta lembaga internasional seperti International Energy Agency (IEA) dan Asian Development Bank (ADB).

Dalam forum tersebut, negara-negara peserta meluncurkan “assistance package plan” sebagai langkah konkret merespons krisis energi global. Paket ini mencakup strategi mitigasi jangka pendek untuk menjaga pasokan minyak mentah dan energi, sekaligus penguatan ketahanan energi kawasan dalam jangka menengah dan panjang melalui transformasi AZEC menuju AZEC 2.0.

Selain itu, disiapkan pula dukungan pembiayaan sebesar 1,5 triliun yen.
Airlangga menyampaikan apresiasi atas langkah cepat Jepang dalam menginisiasi pertemuan tersebut di tengah meningkatnya
ketidakpastian pasokan energi dunia.

Menurutnya, kerja sama AZEC harus tetap berpegang pada prinsip “One Goal, Various Pathways”, yakni pendekatan transisi energi yang menyesuaikan karakteristik dan keunggulan ekonomi masing-masing negara.

Sebagai bagian dari strategi nasional, Indonesia juga memaparkan langkah mitigasi menghadapi potensi gangguan distribusi energi dari kawasan Teluk Persia, khususnya Selat Hormuz.

Pemerintah menargetkan implementasi biodiesel B50 mulai pertengahan 2026 serta penyelesaian roadmap Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap 100 gigawatt tahun ini untuk memperkuat ketahanan energi domestik.

Indonesia menilai platform AZEC semakin penting dalam mempercepat transisi energi berkelanjutan di kawasan. Komitmen tersebut sebelumnya diperkuat dalam KTT ke-3 AZEC di Kuala Lumpur pada Oktober 2025, ketika Indonesia dan Jepang menandatangani 21 nota kesepahaman baru di sektor energi dan pembangunan berkelanjutan.

Kesepakatan itu mencakup pengembangan energi terbarukan, dekarbonisasi, serta penguatan rantai pasok energi. Hingga kini, AZEC juga dinilai berhasil mendorong penyelesaian sejumlah proyek strategis di Indonesia, termasuk PLTP Muara Laboh dan proyek PLTSa Legok Nangka, yang menjadi bagian penting upaya dekarbonisasi nasional.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News