
MALANG, 8 MEI 2026 – VNNMedia –Disrupsi teknologi informasi membawa dampak perubahan pola hidup dan interaksi manusia. Termasuk memudarnya nilai-nilai luhur budaya bangsa. Manusia dipaksa menjadi individualis. Memuja materialisme dan hidup dengan gaya hedonisme.
Demikian disampaikan Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Jawa Timur, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti saat memberikan kuliah umum dengan tema Budaya Spiritual yang diselenggarakan Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU) dalam rangka Pendadaran Juru Pitutur se-Jawa Timur yang diselenggarakan di Dau, Malang, Kamis (7/5/2026) malam.
Dikatakan LaNyalla, doktrin falsafah Indonesia melalui Pancasila adalah sebaliknya. Pancasila mengajarkan bahwa manusia Indonesia adalah makhluk sosial. Interaksi dilakukan dengan tepo sliro dan gotong royong. Budaya kita adalah budaya kekeluargaan. Dan nilai dasar kita adalah ketuhanan atau spiritualisme.
“Oleh karena itu, saya berikan apresiasi kepada PAMU yang tetap eksis menjaga akar budaya tradisi dan budaya spiritual yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tanah Nusantara ini,” ungkap Ketua DPD RI ke-5 tersebut.
Masih menurutnya, makna kata “Pirukunan” yang menjadi identitas PAMU bukanlah sekedar nama organisasi. Tetapi adalah sebuah mandat untuk hidup dalam harmoni. Pirukunan berarti kita terikat dalam satu rasa, satu tujuan, dan satu nafas kebajikan. Inilah yang membuat PAMU tetap eksis hingga saat ini.
“Apalagi di dalam keluarga besar PAMU, terdapat struktur yang saling menguatkan. Ada Sesepuh sebagai akar penguat. Ada Pinisepuh sebagai penimbang kebijaksanaan. Ada Juru Pitutur sebagai penyambung pesan luhur, dan para Kadang sebagai pelaku di lapangan. Sinergi inilah yang membuat PAMU tetap kokoh,” urainya.
LaNyalla berharap, Budaya Spiritual dalam ajaran PAMU seharusnya dimaknai dengan merawat tradisi dan memperkokoh jati diri bangsa Indonesia. Karena pada hakikatnya, jati diri bangsa Indonesia adalah bagian dari semangat spiritual itu sendiri. Sehingga sikap Purwa menjadi sangat penting dijaga, agar bangsa ini berpijak kepada asal-usulnya. Tidak kehilangan jati diri.
“Karena itu penting untuk mengamalkan Pancasila. Karena manusia yang mengamalkan nilai-nilai Pancasila pasti adalah manusia Indonesia yang berketuhanan. Manusia yang memanusiakan manusia. Manusia yang memiliki dorongan untuk menjaga persatuan. Manusia yang memilih jalan musyawarah dan mau mendengar pendapat para hikmat. Serta manusia yang memperjuangkan keadilan sosial,” tandasnya.
LaNyalla berharap, keluarga besar PAMU ikut mendorong agar bangsa ini kembali membumikan Pancasila. Sekaligus kita tanamkan dalam hati, bahwa budaya adalah cara kita merawat raga dan perilaku. Sedangkan spiritualitas adalah cara kita merawat jiwa.
Di tempat yang sama, Direktur BKMA Kementerian Kebudayaan, Sjamsul Hadi, berharap DPD RI, ikut mendorong lahirnya regulasi yang memenuhi hak konstitusional para penghayat kepercayaan dan masyarakat adat.
Menurutnya, penguatan budaya harus mencakup perlindungan hukum, pengakuan identitas, dan ruang ekspresi bagi masyarakat hukum adat, termasuk komunitas lokal seperti suku Tengger di Lumajang, Jatim.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News