Komandan Cobra yang Ditakuti Begal Kini Masuk 3 Besar Polisi Berintegritas ‘Hoegeng Awards 2026’

[Arsal Sahban (semasa masih menjabat Kapolres Lumajang, Polda Jawa Timur)]

Jakarta, 25 Mei 2026, VNNMedia – Tujuh tahun berlalu, jabatan sudah berganti, Kota sudah ditinggalkan. Tapi nama Arsal Sahban ternyata tidak ikut pergi dari ingatan warga Lumajang, Jawa Timur.

Itulah yang membuat Kombes Pol. Dr. Muhammad Arsal Sahban, S.H., S.I.K., M.M., M.H, sempat terkejut ketika namanya muncul sebagai salah satu kandidat Hoegeng Awards 2026 dan bukan karena diusulkan institusinya, tapi karena warga Lumajang dari berbagai penjuru, secara sukarela, mencalonkan mantan Kapolres mereka yang sudah lama pergi itu.

Kini, Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 resmi menetapkan Arsal Sahban sebagai satu dari tiga besar kandidat kategori Polisi Berintegritas, kategori yang oleh para juri sendiri disebut sebagai yang paling sulit, paling berlapis verifikasinya, dan paling bergengsi dalam ajang ini.

Tidak semua kategori dalam Hoegeng Awards diperlakukan sama. Para Dewan Pakar secara terbuka mengakui bahwa menentukan Polisi Berintegritas adalah proses yang paling rumit dibandingkan kategori lainnya.

Rujukan utama ajang ini adalah sosok Jenderal Hoegeng Iman Santoso, tokoh polisi yang dikenang sepanjang masa karena kesederhanaan dan integritasnya yang tak tergoyahkan.

Para juri sepakat: menilai seorang polisi berintegritas tidak bisa hanya bersandar pada satu atau dua peristiwa. Rekam jejak harus ditelusuri secara menyeluruh dan berlapis namun mulai dari kewajaran laporan keuangan LHKPN, ada tidaknya konflik kepentingan dalam pelaksanaan tugas, gaya hidup, hingga konfirmasi silang dari berbagai sumber independen. Kategori ini, menurut para juri, akan menjadi wajah utama Polri di hadapan masyarakat.  

Dengan standar sepresisi itu, lolosnya Arsal Sahban ke tiga besar bukan sekadar pencapaian administratif. Ini adalah pernyataan bahwa rekam jejaknya telah melewati penyaringan yang tidak mudah.

Saat itu November 2018. Kombes Pol. M. Arsal Sahban  tiba di Lumajang sebagai Kapolres baru. Lumajang kala itu sudah terlanjur dikenal luas di Jawa Timur sebagai “kota begal.” Angka kriminalitas tinggi, kepercayaan masyarakat pada aparat rendah, dan ketakutan berkendara malam hari sudah menjadi bagian keseharian warga. Arsal bergerak cepat.

Ia membentuk unit khusus yang ia beri nama ‘Tim Cobra’ yang fokus pada tiga masalah utama: begal, pencurian sapi, dan tambang pasir ilegal. Tidak lama, nama Tim Cobra menjadi momok bagi para pelaku kejahatan di seluruh kabupaten.

Arsal pernah secara terbuka menyatakan siap menghadiahkan gaji satu bulannya bagi siapa pun yang membantu menangkap begal atau maling sapi. Janji itu ia tepati ketika seorang warga desa berhasil menggagalkan pencurian sapi milik tetangganya.

Saat ada laporan kehilangan sapi, ia tidak menunggu siang pagi hingga pagi buta, anggota Satreskrim sudah menyisir kebun tebu dengan drone, dipimpin langsung oleh Arsal Sahban.

Data Berbicara Lebih Keras dari Kata-kata

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) tentang jumlah kejahatan yang dilaporkan di wilayah Polres Jawa Timur, angka kriminalitas Kabupaten Lumajang mencatat titik terendahnya tepat di tahun 2019 saat Arsal menjabat. Dan ketika ia pergi, angka itu merangkak naik, lalu melonjak drastis.

Rata-rata sebelum (2016–2018) 525 Saat Arsal menjabat (2019) kasus/tahun 312. Setelah pindah tugas (2022) 1.378 Penyelesaian kasus 88,46% naik 341% vs 2019. Sumber data: Badan Pusat Statistik (BPS) — Jumlah Kejahatan yang Dilaporkan Kepolisian Resort Wilayah Jawa Timur, 2016–2022. Kabupaten Lumajang.

Di balik ketegasan itu, ada sesuatu yang lebih menentukan: integritas yang tidak bisa dibeli. Hasran, mantan Katim Cobra yang kini berprofesi sebagai pengacara dan memberi nama firma hukumnya Hasran Cobra & Partners sebagai penghormatan atas warisan Tim Cobra memberikan kesaksian yang paling berbicara.

Di luar tugasnya sebagai perwira aktif, Arsal Sahban menjalani kehidupan akademik yang serius. Ia adalah dosen tetap STIK-PTIK dengan pangkat akademik Lektor, gelar yang diakui dan dikeluarkan secara resmi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Ini bukan sekadar jabatan fungsional internal namun ini pengakuan negara atas kapasitas keilmuannya.

Sebagai akademisi, ia tidak berhenti belajar. Pada Desember 2025, Arsal Sahban menyelesaikan pendidikan kepemimpinan tertinggi Polri di Sespimti dan bukan sebagai pengajar, melainkan sebagai peserta didik dan hasilnya luar biasa.

Nastrap itu dinilai menghadirkan gagasan yang belum pernah diangkat sebelumnya: bagaimana kejahatan keuangan kini telah berevolusi menjadi cyber dependent financial crime yang bergerak melampaui batas yurisdiksi, anonim, dan nyaris tanpa jejak melalui teknologi blockchain.

Arsal merumuskan 10 strategi komprehensif dalam tiga tahap, mulai dari penetapan SOP nasional barang bukti kripto dan sertifikasi internasional, hingga penguatan kapasitas kelembagaan Polri menghadapi ancaman keuangan digital lintas negara.

Peran Arsal sebagai jembatan antara Polri dan dunia internasional juga nyata dalam jalur lain. Ia memfasilitasi kerja sama antara STIK-PTIK dengan Northern Illinois University (NIU), salah satu universitas negeri terkemuka Amerika Serikat yang masuk kategori Tier 1 global yang mencakup pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian bersama, pengembangan kurikulum berstandar internasional, hingga studi banding ke lembaga seperti FBI dan CIA.

Di luar STIK-PTIK, Arsal juga merupakan salah satu pendiri Yayasan Pendidikan Lasharan Jaya di Makassar, yang menaungi STIMLASH dan kampus dengan program S1 dan S2 Manajemen yang turut menjalin kerja sama akademik dengan NIU.

Yang mungkin paling mencerminkan karakter asli Arsal Sahban bukan pangkatnya, bukan penghargaannya, melainkan sebuah fakta sederhana: selama lebih dari 15 tahun, ia menjabat sebagai Ketua RT 014/RW 02 Tanjung Duren, Jakarta Barat. Dan pada Oktober 2024, ketika pemilihan ulang digelar, warga kembali memilihnya secara aklamasi tanpa debat, tanpa kandidat lain.

Di media sosial, fenomena itu terlihat nyata. Setiap unggahan Arsal yang berkaitan dengan Lumajang riuh dikomentari warganya meminta ia kembali, mendoakan kesehatannya, berharap ia tetap bersahaja. Satu video di TikToknya ditonton lebih dari 500 ribu kali dengan hampir seribu komentar, hampir semuanya dari warga Lumajang. Bahkan di tengah maraknya kasus begal yang kembali meresahkan Lumajang belakangan ini, nama Arsal Sahban kembali ramai disebut dan dibagikan warga di media sosial sebagai ekspresi rindu, sekaligus harapan yang belum padam. Arsal sendiri merespons semua pencapaian ini dengan rendah hati.

3 Besar Kandidat Polisi Berintegritas ‘Hoegeng Awards 2026’

1. Kombes Pol. Dr. Muhammad Arsal Sahban, S.H., S.I.K., M.M., M.H. Analis Kebijakan Madya Bidang Eksus Bareskrim Polri, mantan Kapolres Lumajang 2018–2019.
2. Kombes Norul Hidayat Kepala SPN Polda Bangka Belitung.
3. Kombes Yimmy Kurniawan Analis Kebijakan Madya Bidang Binkar SSDM Polri, mantan Kapolres Salatiga.

Tim Juri atau Dewan Pakar Hoegeng Awards 2026 adalah:

· Dr. Habiburokhman, S.H., M.H. (Ketua Komisi III DPR RI).
· Alissa Qotrunnada Wahid, M.Psi (Gusdurian).
· Putu Elvina, S.Psi., MM (Wakil Ketua Komnas HAM).
· Dr. Mas Achmad Santosa, S.H., LL.M. (mantan Plt. Pimpinan KPK).
· Gufron Mabruri (Anggota Kompolnas).

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News