
SURABAYA, 18 MEI 2026 – VNNmedia – Kenaikan harga sampah plastik di pasaran mulai berdampak pada pola pengelolaan sampah di Kota Surabaya. Momentum ini dimanfaatkan Pemerintah Kota Surabaya untuk mendorong warga memilah sampah sejak dari rumah agar bisa menjadi sumber tambahan pendapatan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, M Fikser, mengatakan tingginya harga plastik membuat sampah non-organik kini banyak diburu pemulung hingga pengepul.
“Memang harga plastik sedang naik di pasaran. Hasil pemilahan sampah di TPS sekarang banyak dicari pemulung, khususnya sampah plastik,” kata Fikser.
Fenomena tersebut, lanjutnya, terlihat di sejumlah TPS 3R di Surabaya. Sampah plastik kini dipisahkan lebih awal karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan sudah banyak dipesan pengepul.
Menurut Fikser, sekitar 12 TPS 3R di Surabaya saat ini telah melakukan pemisahan sampah plastik secara khusus sebelum diangkut lebih lanjut.
Meski demikian, DLH Surabaya memperketat pengawasan di area Tempat Penampungan Sementara (TPS) agar tidak menjadi lokasi pemilahan sampah liar. Pemkot menegaskan pemilahan seharusnya dilakukan sebelum sampah masuk TPS sehingga lokasi tetap bersih dan hanya menampung sampah residu.
“Kalau ada pemilahan, seharusnya dilakukan sebelum masuk TPS, bukan di dalam TPS,” ujarnya.
DLH juga mulai menertibkan aktivitas bongkar muat sampah di sekitar TPS yang dilakukan pencari sampah plastik. Sebab, meningkatnya harga plastik memicu banyak pemulung menunggu gerobak sampah datang untuk mencari sampah bernilai jual.
Selain penertiban, Pemkot Surabaya juga melihat kondisi ini sebagai peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Warga didorong mulai memilah sampah non-organik dari rumah untuk dijual melalui bank sampah.
Fikser menyebut DLH Surabaya saat ini memiliki enam bank sampah induk yang siap menampung sampah bernilai ekonomis dari masyarakat. Salah satunya berada di kantor DLH Surabaya.
DLH juga siap memfasilitasi jadwal pengambilan sampah hasil pemilahan warga melalui koordinasi bersama RT dan RW. Nantinya, sampah bisa dikumpulkan secara kolektif di Balai RW, Balai RT, atau titik yang disepakati warga sebelum diambil petugas.
“Kami bisa fasilitasi pengambilannya. Tinggal disepakati jadwalnya, nanti sampah ditimbang dan langsung dibayar,” jelasnya.
Pemkot Surabaya berharap pengelolaan sampah berbasis lingkungan
ini dapat membentuk ekosistem ekonomi sirkular di tingkat kampung sekaligus mengurangi timbunan sampah di TPS.
“Kalau dikelola bersama oleh warga melalui RT dan RW, ini bisa menjadi ekosistem baru yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus menambah pendapatan masyarakat,” pungkas Fikser.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News