
JAKARTA, 21 MEI 2026 – VNNMedia – Pemerintah mendorong sektor pariwisata menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus sumber devisa utama di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sektor pariwisata memiliki potensi besar untuk menopang target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen.
“Target kontribusi sektor pariwisata adalah 5 persen terhadap GDP nasional dengan perolehan devisa sebesar USD39,4 miliar. Nilainya setara dengan ekspor utama Indonesia seperti batu bara dan sawit. Maka ini adalah domestic engine of growth yang harus kita pacu,” ujar Airlangga dalam Rapat Koordinasi Nasional Pariwisata 2026 di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Menurut Airlangga, capaian ekonomi nasional pada Triwulan I 2026 yang tumbuh 5,61 persen secara year on year menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia masih kuat meski dunia tengah menghadapi ketidakpastian geopolitik dan perlambatan global.
Di tengah kondisi tersebut, sektor pariwisata dinilai menjadi salah satu andalan dalam mendukung devisa negara.
Data pemerintah mencatat, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025 mencapai 15,39 juta kunjungan. Sementara pergerakan wisatawan nusantara menembus 1,2 miliar perjalanan.
Pada awal 2026, tren positif tersebut masih berlanjut dengan 3,44 juta kunjungan wisatawan asing dan 319 juta perjalanan wisatawan domestik.
Airlangga menegaskan, sektor pariwisata kini bergerak menuju paradigma baru yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan inklusif. Karena itu, pemerintah terus memperkuat kualitas sumber daya manusia, aksesibilitas, konektivitas, hingga daya saing destinasi wisata nasional.
Pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas SDM pariwisata melalui pelatihan, sertifikasi, pendidikan vokasi, serta program link and match dengan kebutuhan industri.
Selain itu, penguatan ekosistem destinasi dilakukan melalui peningkatan standar keselamatan wisata, perbaikan aksesibilitas, hingga perluasan fasilitas Bebas Visa Kunjungan (BVK) bagi negara-negara potensial penyumbang wisatawan asing.
Negara yang menjadi target awal kebijakan tersebut antara lain Jepang, Korea Selatan, Australia, India, Selandia Baru, Kazakhstan, Belarus, dan Makau.
Pemerintah juga membidik peningkatan kunjungan permanent resident di Singapura, khususnya menuju kawasan Batam, Bintan, dan Karimun sebagai pintu utama wisata regional.
Untuk memperkuat iklim investasi pariwisata, pemerintah telah menetapkan 11 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata serta membuka 37 bandara internasional baru guna meningkatkan konektivitas wisata nasional.
Selain pengembangan destinasi unggulan, pemerintah juga mempercepat penerapan single platform perizinan event internasional agar penyelenggaraan berbagai kegiatan global di Indonesia semakin mudah dan kompetitif.
Promosi wisata berbasis film destinasi juga menjadi strategi baru untuk meningkatkan daya tarik pariwisata Indonesia di pasar internasional.
Airlangga menilai kawasan ASEAN memiliki potensi besar dalam mendukung pertumbuhan sektor pariwisata nasional, terutama melihat keberhasilan Thailand dan Malaysia yang mampu menarik lebih dari 35 juta wisatawan mancanegara setiap tahun.
“Kita harus memperkuat konektivitas, keamanan destinasi, promosi, branding, hingga pelatihan dan sertifikasi agar daya saing pariwisata Indonesia semakin meningkat,” pungkasnya.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News