20 MEI 1908 dan 21 MEI 1998

Hadipras

SURABAYA, 7 MEI 2026 – VNNMedia – Tulisan literasi publik kali ini mengajak: Silent Generation, Baby Boomer, Gen-X, Millenial, Gen-Z; untuk meningkatkan kesadaran dan semangat bela negara-bangsa, berkaca pada Gerakan Kebangkitan Nasional oleh Boedi Oetomo yang terjadi  20 Mei 1908, dan Gerakan Reformasi 1998 yang terjadi 21 Mei 1998.

Kedua peristiwa itu punya tujuan bersejarah, yang 1908 membuat rakyat tersadar bahwa mereka bukan bangsa inlander, tetapi bisa merdeka jika bersatu. Gerakan ini kemudian bersambut dengan Hari Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928. Sedang Gerakan Reformasi 1998 adalah bertujuan meruntuhkan rezim otoriter Orde Baru, membangkitkan demokrasi, keadilan, serta bebas korupsi, kolusi dan nepotisme.

Mungkin lebih mengena di hati jika peringatan gerakan nasional tidak dilakukan dengan upacara dan konvoi, tetapi dengan mengajak lintas generasi membuat dan membaca sajak  ‘ala’ WS Rendra yang karakternya penuh kritik-pencerahan-perlawanan dan do’a, untuk kejayaan Indonesia.

Mungkin sangat menarik jika di buat dengan Konsep Festival: “Panggung Sebatang lisong 2026”, dimana sebatang Lisong adalah simbol rakyat kecil yang menyalakan api ‘harapan’.
Bisa dilakukan di panggung rakyat, bisa di tiktok dan sebagainya.
Untuk mengawali itu semua, disajikan sajak:

INDONESIA TENGAH MALAM
Kulihat negeriku sekarang
bukan dalam peta
tapi dalam mata lelaki tua
yang menjual tisu di lampu merah

ia tertawa pahit
katanya:
“demo di tv itu
cuma ganti baju
yang telanjang tetap telanjang”

Indonesia hari-hari ini
bukan sedang sakit
tapi sedang lupa
lupa bahwa gotong royong
bukan foto sesuka hati di hari rabu

yang kaya makin pintar
menyusun dalil
bahwa rezeki adalah doa
maka yang miskin
cuma kurang khusyuk

polisi menghitung suara
yang bising dianggap musuh
yang diam dianggap setuju
dan di celah celah itu
kebohongan tumbuh
subur seperti ilalang

aku rindu
Indonesia yang marahnya jujur
bukan marah yang dijadwalkan
menjelang pemilu

aku rindu
sungai yang bisa diminum
dan pejabat yang letih
karena terlalu sibuk kerja
bukan karena terlalu sibuk foto

tapi malam masih panjang
dan aku hanya punya puisi
sementara mereka punya tank

maka sebelum tidur
kupasrahkan negeri ini
pada Ibu Pertiwi yang mungkin
juga sedang gelisah sulit tidur

jika kau dengar suara tangis di malam hari
jangan buru buru menyebutnya angin
itu
anak anak negeri
yang kehilangan tempat bermimpi

selamat tidur
Indonesia
maaf
kami belum cukup berani
membangunkanmu
dari mimpi buruk yang kau
anggap biasa.

API DI UJUNG LISONG
Ada dua Mei dalam satu tubuh yang bimbang:
1908 kita membuka mata,
1998 kita merobohkan berhala.
Tapi lihatlah kita sekarang, di 2026—
demokrasi hanya gincu di bibir kuasa,
keadilan dijual eceran di pasar malam.

Kita tidak kekurangan orang pintar.
Kita kekurangan orang yang masih punya malu!

Wahai generasi yang lahir dari rahim yang berbeda:
dari mereka yang memegang cangkul,
hingga yang memegang layar sentuh.
Bela negara
bukan hanya baris-berbaris di bawah terik matahari,
tapi berani berkata TIDAK
saat ketidakadilan merangsek masuk rumahmu.

Aku menghisap sebatang lisong
di tikungan jalan yang remang-remang,
mencari wajah Indonesia yang dulu
jujur bicaranya—
bukan Indonesia yang sibuk memoles citra
di balik kamera dan panel iklan.

Jika hari ini kita hanya diam
melihat kebohongan bertunas dan berbuah,
maka kita sedang memesan peti mati
untuk anak cucu kita sendiri.

Sebab negeri ini tidak dibangun
dengan upacara bendera dan konvoi gembar-gembor,
tapi dengan api harapan
yang menyala di dada rakyat kecil yang tak pernah masuk undangan.

Maka bangunlah.
Sebab fajar tidak akan datang
pada mereka yang lebih memilih
menikmati mimpi buruk
daripada membasuh muka dengan keberanian.

Ayo kita buat sajak-sajak yang bagus untuk menemani pergumulan batin Ibu Pertiwi.

Oleh: Hadipras
Ketua Dewan Pakar PWI Jatim

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News