Andai Danantara Sudah Mapan

SURABAYA, 29 MARET 2026 – VNNmedia – Andai Danantara Sudah Mapan

Oleh: Hadipras
Penulis adalah Ketua Dewan Pakar PWI Jawa Timur

Di tengah tekanan fiskal yang kian menyesakkan—beban pembayaran bunga utang yang melahap 51% pendapatan negara dan larinya investor asing dari pasar SBN—harapan besar ditumpukan pada Danantara.

Sebagai Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, ia digadang-gadang sebagai “superholding” dengan aset kelolaan USD900 miliar. Niatnya mulia: menjadi mesin uang yang menarik investasi ekuitas dan menjaga ketahanan ekonomi tanpa menambah tumpukan utang baru.

Namun, realita Maret 2026 memaksa kita bertanya: Sejauh mana kita dari titik mapan yang dijanjikan itu?

Andai Danantara sudah mapan, ia akan menjadi instrumen de-leveraging yang tangguh. Alih-alih negara terus menerbitkan surat utang dengan bunga mencekik, Danantara mampu menarik modal global melalui kemitraan ekuitas. Namun, potret hari ini menunjukkan distorsi; bukannya mengurangi beban, Danantara justru merencanakan obligasi US$1,2 miliar. Ini tak ubahnya memindahkan beban dari kantong kiri ke kantong kanan, tetap dengan label “utang”.

Saat anggaran negara goyah, Danantara tidak punya waktu untuk sekedar “memanaskan mesin”. Publik tidak butuh janji abstrak jangka panjang. Yang dibutuhkan adalah quick wins: proyek-proyek yang dalam hitungan bulan mampu menciptakan lapangan kerja, menekan impor, dan meringankan beban fiskal.

Agar tidak terjebak menjadi “beban baru”, Danantara harus segera mengeksekusi empat proyek strategis yang sudah di depan mata:
Pertama, Proyek Waste to Energy (WtE) di 33 Kota. Dengan investasi Rp84 triliun, proyek di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan ini adalah solusi win-win.

Saat beroperasi pada 2027, setiap proyek berpotensi menyumbang Rp1,6 triliun per tahun ke PDB dan menyerap hingga 4.500 tenaga kerja saat konstruksi. Secara fiskal, ini menekan impor energi sekaligus menyelesaikan darurat sampah yang membebani anggaran daerah.

Kedua, Hilirisasi Padat Karya. Danantara telah memulai fase I senilai USD7 miliar di 13 daerah, mencakup smelter bauksit hingga peternakan ayam terintegrasi. Dampaknya instan: proyek peternakan saja diprediksi menciptakan 1,46 juta lapangan kerja baru. Di tengah anjloknya daya beli kelas menengah, lapangan kerja adalah oksigen yang paling mendesak.

Ketiga, Pabrik Modul Surya 50GW. Dengan investasi USD1,4 miliar, pabrik yang ditargetkan beroperasi akhir 2026 ini akan menjadi game changer. Selama ini Indonesia mengimpor panel surya; dengan produksi mandiri, devisa yang mengalir keluar dapat ditekan drastis, sekaligus menciptakan rantai pasok manufaktur hijau dari hulu ke hilir.

Keempat, Proyek Caustic Soda (Cordova). Fasilitas senilai Rp13,4 triliun ini sangat vital karena selama ini kita mengimpor hampir seluruh kebutuhan caustic soda untuk industri mineral. Dengan ketersediaan domestik, biaya produksi smelter akan turun dan multiplier effect-nya diperkirakan mencapai lima kali lipat dari nilai investasi.

Quick wins ini hanya akan terwujud jika eksekusinya bersih. Dukungan tokoh internasional seperti Ray Dalio memang diharapkan mendorong investasi asing, namun publik harus tetap mengawal. Skor tata kelola Danantara yang masih di bawah standar global (survei Petromindo: 2,90) adalah lampu kuning.

Tanpa transparansi total, proyek-proyek ini berisiko menjadi state-captured monopoly—kendaraan kepentingan politik jangka pendek yang justru membebani fiskal.

Pemerintah harus berani melakukan audit independen dan mengukur ulang prioritas. Tunda proyek-proyek “etalase” yang hanya membangun citra, dan percepat proyek ketahanan energi yang berdampak langsung pada dompet rakyat.

Jika kita gunakan nalar khas Indonesia, Danantara sebenarnya adalah “anak” yang lahir dengan modal sangat besar dari orang tuanya, yakni Negara. Lazimnya, ketika sang orang tua sedang sakit dan goyah karena beban utang, si anak yang sudah diberi modal besar inilah yang seharusnya tampil menjadi penyelamat, bukan justru “tiarap” atau malah meminta uang saku tambahan dalam bentuk utang baru.

Kita tentu mendambakan hari di mana Danantara benar-benar mapan. Namun, jika ia terus diisi dengan beban obligasi dan janji yang tak berujung pada pendapatan riil, ia berisiko menjadi pemberat sekoci yang mempercepat karamnya kapal besar kita.

Seringkali di negeri ini, yang disebut sebagai “investasi strategis menuju kemapanan” hanyalah cara halus untuk mengatakan: “Utang baru yang cicilannya kita wariskan ke cucu, sementara si anak emas sibuk bersolek di tengah badai.”

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News