
SURABAYA, 27 MARET 2026 – VNNMedia – Hadipras
Penulis adalah Ketua Dewan Pakar PWI Jatim
Di panggung politik kontemporer, kita sedang menyaksikan sebuah paradoks yang menyesakkan dada: “Meja yang penuh, hati yang kosong.” Kalimat ini bukan sekedar barisan kata sindiran, melainkan cermin tajam yang memantulkan realitas pahit di balik megahnya etalase kekuasaan.
Meja-meja birokrasi tampak meluap dengan tumpukan proposal proyek, baliho bantuan sosial, hingga angka statistik yang dipoles sedemikian rupa. Namun, di balik tumpukan itu, bersemayam kehampaan nurani dari mereka yang ambisius, yang mengubah pengabdian menjadi ajang “panjat sosial” (pansos) yang sistemis.
Untuk menjaga kewarasan publik, kita perlu membedah empat modus ‘rasa munafik’ yang kerap disajikan sebagai “hidangan lezat” bagi rakyat.
Pertama, candu populisme dan ilusi anggaran. Aktor kekuasaan kerap meluncurkan program populis yang nirmakna demi tepuk tangan sesaat. Dengan jargon “pro-rakyat”, mereka menguras anggaran negara tanpa perencanaan matang, memicu pola gali lubang tutup lubang yang merapuhkan fondasi ekonomi masa depan.
Di balik gimik tersebut, isu fundamental seperti kemiskinan struktural sengaja ditutup-tutupi, sementara akses proyek diam-diam “bocor” ke lingkaran dalam mereka sendiri.
Kedua, kedermawanan palsu sebagai tabir asap. Bantuan Sosial (Bansos) kini sering diselewengkan menjadi instrumen pencitraan pribadi. Tokoh politik tampil bak pahlawan di depan kamera, padahal bantuan tersebut adalah hak rakyat yang bersumber dari pajak.
Modus ini menjadi ‘smokescreen’ untuk menutupi borok korupsi atau mengalihkan perhatian dari skandal besar. Satu tangan membagi sembako, tangan lain merampok kedaulatan anggaran.
Ketiga, retorika apik dalam selubung nafsu kuasa. Kita hidup di era dimana kefasihan berbicara lebih dihargai daripada integritas. Para pemain politik adalah orator ulung yang mampu memutarbalikkan fakta saat ditagih janji.
Di balik narasi “keadilan” yang mereka dengungkan, tersimpan nafsu kekuasaan yang tak terbendung—kekuasaan yang dikejar bukan sebagai sarana melayani, melainkan tujuan akhir untuk memperkaya diri.
Keempat, teror sistemis dibalik jubah hukum. Inilah wajah paling predator: kriminalisasi dan intimidasi yang dilakukan secara sistemik. Atas nama penegakan hukum, suara kritis dibungkam.
Dengan dukungan pasukan buzzer untuk membunuh karakter lawan, hukum tidak lagi menjadi panglima keadilan, melainkan senjata pemukul untuk mempertahankan status quo.
Dunia memang semakin kejam, bukan hanya karena kekerasan fisik, tetapi karena kehalusan tipu daya. Teknologi dan mesin propaganda mampu mengubah kebohongan menjadi “kebenaran baru” hanya dalam hitungan jam.
Dalam kondisi ini, literasi publik adalah satu-satunya benteng kita. Kita harus berani mempertanyakan setiap gimik dan menuntut transparansi di atas meja yang tampak penuh itu.
Jangan biarkan hati kita ikut kosong. Mari kita penuhi nurani dengan akal sehat dan keberanian yang cerdas. Jika kita terus terpesona oleh panggung sandiwara ini, kitalah yang akan membayar harganya dengan masa depan yang gelap.
Memang sungguh “mulia” para tuan di atas sana; mereka begitu sibuk memikirkan rakyat sampai lupa menyisakan ruang bagi nurani. Begitu lihai mereka membagi-bagikan “ikan” hasil curian dari kolam milik kita sendiri, sambil mengharap kita sujud syukur atas kemurahan hati mereka.
Sungguh pemandangan yang mengharukan: sebuah meja yang penuh dengan hidangan mewah, namun dikerumuni oleh jiwa-jiwa yang lapar akan kuasa dan kosong dari rasa malu.
Selamat menikmati pesta diatas penderitaan, sebab bagi mereka, rakyat hanyalah angka dalam statistik yang diperlukan saat hari-H Pemilu—setelah itu, silakan kembali membusuk di sudut kemiskinan yang mereka ciptakan sendiri.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News