Pameran ‘Another Day to Play’ di Museum Pendidikan Surabaya Ajari Anak Belajar Lewat Bermain

Surabaya, 4 Agustus 2025, VNNMedia – Membentuk kecerdasan intelektual pada anak di masa sekarang sangat dipengaruhi oleh pola belajar yang dibentuk oleh orang tua. Pola belajar yang dikemas oleh orang tua harus menarik perhatian bagi anak, sehingga bisa membuat anak yang malas belajar dengan metode biasanya tidak jenuh dan membosankan. Berangkat dari latar belakang itulah sebuah pamderan seni bertajuk ‘Another Day to Play’ telah sukses digelar di Museum Pendidikan Surabaya. 

Pameran ramah anak ini menyoroti pentingnya bermain dalam proses tumbuh kembang anak. Lewat karya yang dipamerkan, pengunjung diajak merefleksikan perubahan makna bermain di tengah arus digital dan komersialisasi. 

Giat pameran diselenggarakan oleh Lotus Art Course dan diorganisir oleh Orasis Art Space, dengan menghadirkan karya dari 12 seniman muda. Selain menghadirkan karya partisipatif, juga diadakan sesi diskusi tentang bagaimana permainan bisa menjadi sarana belajar, membaca sejarah, dan menyuarakan isu sosial. 

Adapun para seniman yang turut terlibat dalam pameran di Museum Pendidikan Surabaya ini ialah, Aisyah Azkadina A.A, Ali Akhtar Aryasatya, Alisha Cheryl Zaffa A., Gempita R. Ramadhani, Joyce Zerlina, Joseph Pierre Budiono, Kaylee Ann Siswanto, Louisa C. Simanjuntak, Madeleine L. Tongku, N. Adinata Mayakori, Nadine Fave, Raynold Alexander Sie.

Dikonfirmasi Senin (4/8/2025), Pendiri sekaligus Guru Lotus Art Course Putu Mahendra menyampaikan, beberapa karya yang ditampilkan pada pameran ini bersifat interaktif dan mendorong keterlibatan langsung dari pengunjung. Selain sebagai medium ekspresi, bermain ditawarkan kembali sebagai cara belajar dan berimajinasi. 

“Melalui pendekatan ini, anak-anak dapat belajar menggunakan medium seni untuk menyampaikan gagasan dan membaca dunia sekitarnya. Pameran ini berlangsung dari 26 Juli hingga 3 Agustus 2025 kemarin dan terbuka setiap hari kecuali Senin pada pukul 09.00 pagi, hingga 21.00,” jelas Putu.

Sarana Belajar 

Melalui pameran ini, Putu menjelaskan, diharapkan anak-anak itu bisa bermain, berkreasi, dan berkreatifitas melalui karya seni. Oleh karenanya, Ia menekankan, tajuk pameran ini merupakan hasil kolaborasi Lotus Art Course bersama Orasis Art Spaces. Sehingga pameran ini bisa jadi sarana belajar, sarana apresiasi. 

“Karena layout dan konsep pameran ini juga interaktif. Jadi nanti anak-anak tidak hanya menonton, melihat karya, tapi juga bisa merespon karya, merespon ruangan juga bisa. Supaya bisa jadi satu spot yang baru juga untuk anak-anak bisa mengapresiasi karya seni,” terang Putu.

Ia mengungkapkan, semangat diadakannya pameran ini berlangsung di Museum Pendidikan adalah bersamaan dengan momentum Hari Anak. 

“Jadi kita cari momen hari anak, terus tempatnya juga di museum pendidikan yang tidak jauh dari anak-anak. Dan memang kita rencanakan ini juga sekitar dari awal tahun ya, plannya. Jadi puji syukur bisa terlaksana pas di momen ini,” ungkap Putu.

Hal menarik dari pameran ini, dikatakan Putu, adalah karya yang ditampilkan tidak hanya karya dua dimensi saja melainkan adalah karya yang responsif. 

“Apalagi kita kemas dengan suasana yang ceria, fun, konsepnya colorful. Dan anak-anak yang berkunjung pasti happy karena tidak hanya pameran, kami juga ada program-program selama pameran ini. Jadi kami berharap pameran ini bisa menjadi referensi baru untuk keluarga Surabaya untuk mengapresiasi karya anak,” papar Putu.

Dalam agenda pameran ini, Putu menyebutkan, ada kegiatan menggambar bersama, ada keliling pameran yang dipandu tim Orasis, dan sesi membuat DIY workshop. 

Untuk menikmati karya pameran, Putu menuturkan, selama pembukaan pengunjung tidak dipungut biaya apapun. Namun untuk hari selanjutnya berbayar Rp5000 karena ikut tiket museum. 

“Jadi masuk ke museum, menikmati museum dulu, baru nanti ditutup sama pamerannya anak-anak. Anak-anak semakin merdeka untuk berkarya, semakin berani berkarya dan orang luar semakin tahu bagaimana cara mengapresiasi karya yang baik,” tutur Putu.

Kesempatan Berkarya Bagi Anak

Sementara itu, salah satu Perwakilan Orang Tua dari Seniman yang turut memamerkan karyanya bernama Ana mengatakan, dilihat dari sudut pandang orang tua pameran ini merupakan suatu kesempatan yang baik dan unik disiapkan untuk anak dan ditujukan untuk anak sehingga dapat menjadi wadah atau kesempatan bagi anak untuk berkarya.

“Tentu anak bermain itu beragam. Ternyata lewat pameran ini kita menyadari bahwa kita bisa menjadikan benda-benda sekitar menjadi mainan. Ada yang membuat dari barang bekas. Kita bangga sebagai orang tua. Ternyata anak anak bisa mengimajinasikan begitu luas,” kata Ana.

Ana mengungkap, bahwa banyak tantangan yang dihadapi para orang tua saat menyiapkan pameran ini. Ketika pihaknya bersama Orasis, mulai merumuskan, hingga diajak berpikir diluar kebiasaan. 

“Terima kasih pada dukungan yang diberikan pada kami. Ini merupakan kesempatan yang spesial bagi kita semua. Anak anak juga diajak hadir untuk melihat, menggali apa lagi yang bisa dibuat untuk pameran ini,” ucapnya.

Sebuah ucapan syukur pun terucap dari salah satu Seniman yang turut memajang karyanya bernama Kaeli. Ia menjelaskan, lewat pameran ini pihaknya diajak keluar dari comfort zone atau zona nyaman, membuat karya yang tidak biasa, ada yang bikin wayang, topeng, kartu remi dan ada yang bikin lukisan yang nisa berubah warna. 

“Semua datang dari rasa penasaran dan keberanian untuk mencoba hal baru. Saya senang menjadi bagian dari pameran ini. Kami belajar bahwa dalam bermain, ide kreatif muncul dan dari sana karya kreatif muncul. Semoga pameran ini juga jadi pengingat bahwa tiap hari menjadi kesempatan bermain berkarya dan berkembang untuk jadi lebih baik dan lebih kreatif,” harap Kaeli.

Telusuri berita lain di Google News VNNMedia