HAN 2025, Khofifah dan Menteri PPPA Ajak Anak Jatim Kembali ke Permainan Tradisional

PASURUAN, 28 JULI 2025 – VNNMedia – Suasana riang dan penuh semangat menyelimuti Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, saat Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Hj. Arifatul Choiri Fauzi menghadiri puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tingkat Provinsi Jawa Timur 2025, Senin (28/7/2025).

Dengan mengusung tema “Anak Indonesia Bersaudara”, perayaan ini menghadirkan sebanyak 1.050 anak dari seluruh Jatim, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA, serta perwakilan forum anak dari 38 kabupaten/kota.

Berbagai kegiatan meriah turut mengisi acara, seperti pertunjukan tari Bujang Ganong dan permainan tradisional. Mulai dari ular tangga, egrang, congklak, bakiak, dam-daman hingga gangsing.

Anak-anak juga diajak menikmati susu dan telur ayam, sebagai simbol pemenuhan gizi. Tidak ketinggalan, sebanyak 1 ton ikan segar disalurkan ke 20 panti asuhan melalui Gerakan Gemar Makan Ikan.

Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga, melindungi, dan membahagiakan anak-anak.

Ia menekankan pentingnya memberi ruang bagi anak untuk mengembangkan talenta dan prestasi agar kelak mengharumkan nama keluarga, daerah, bahkan bangsa.

Sementara itu, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi mengingatkan pentingnya pemenuhan hak-hak anak secara menyeluruh. Ia menyebutkan, dukungan dari orang tua sangat penting dalam menjamin tumbuh kembang dan perlindungan anak, termasuk dalam penggunaan teknologi.

Berdasarkan data SIMFONI-PPA, sepanjang Januari hingga Juli 2025, tercatat 16.713 kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia. Dari angka tersebut, 62,8 persen korban adalah anak-anak, dan 80,5 persen di antaranya adalah perempuan.

Arifatul menyoroti pola asuh yang keliru, penggunaan gawai yang tidak bijak, serta lingkungan sosial yang kurang sehat sebagai pemicu utama.

Untuk mengatasi hal itu, Kementerian PPPA kini mendorong pembatasan penggunaan gadget di kalangan anak dan menghidupkan kembali permainan tradisional serta nilai-nilai nasionalisme lewat lagu dan cerita tokoh pahlawan.

“Keluarga harus menjadi fondasi utama, melalui penguatan pendidikan agama, akhlak, dan budi pekerti,” tegasnya.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News