
Paris, Senin 29 Juni 2026-VNNMedia- Eropa dilanda gelombang panas ekstrem sejak Mei lalu dan mencapai puncaknya pada akhir Juni ini, dengan suhu di atas 35°C. Sejumlah negara di benua tersebut melaporkan dampak dari suhu panas ekstrem termasuk jatuhnya korban jiwa
Mengutip Bloomberg Technoz, Prancis, yang menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling parah, mencatat lebih dari 1.000 kematian pada minggu lalu. “Suhu rekor mendorong angka kematian harian di atas 1.400 pada Kamis dan Jumat, naik dari 900 hingga 1.000 per hari pada April dan Mei,” ujar Lembaga Kesehatan Masyarakat Nasional Prancis (Sante Publique France) dalam pernyataannya kemarin
Guardian edisi 29 Juni 2026 melaporkan suhu di Jerman dan Ceko tembus 40°C, yaitu 41,7°C di kota Coschen-bagian Timur Jerman- dan 41,9°C di Doksany-barat laut Ceko. “Suhu terus meningkat, ini belum menjadi batas maksimum akhir,” bunyi pernyataan Institut Hidrometeorologi Ceko
Ratusan sekolah di Inggris terpaksa ditutup akibat heatwave yang melanda negeri King Charles III itu. Pusat layanan darurat London melaporkan lonjakan panggilan bantuan hingga 50% setelah suhu dilaporkan mencapai 36,9°C selama tiga hari berturut-turut
Sama dengan Inggris, pemerintah Belanda menyerukan penutupan sekolah setelah mengeluarkan code red untuk sebagian besar wilayah di negeri kincir angin itu saat suhu dilaporkan tembus 40°C
Melansir dari CNBC Indonesia, kelompok ilmuwan yang tergabung dalam dari jaringan ilmuwan World Weather Attribution (WWA) menyebut jika pemanasan global menjadi biang kerok gelombang panas di Eropa
Mereka menyebutkan bahwa heat dome atau kubah panas yang memerangkap aliran udara panas dari selatan sebetulnya fenomena biasa. Yang membuatnya tidak biasa kali ini adalah suhunya yang melonjak drastis hingga melampaui batas normal
“Peristiwa ini tidak mungkin terjadi pada Juni tanpa adanya perubahan iklim,” kata Theodore Keeping dari Imperial College London, dikutip dari NewScientist
Kelompok itu juga menunjukkan bahwa indeks WBGT, yang digunakan untuk mengukur gabungan suhu udara, kelembapan, radiasi panas, serta pergerakan angin, terpantau telah atau akan segera memecahkan rekor di hampir separuh wilayah perkotaan Eropa
“Apa yang kita lihat dengan sangat jelas adalah betapa tidak meratanya dampak gelombang panas ini dan bagaimana kondisi tersebut menunjukkan ketimpangan yang semakin melebar akibat perubahan iklim,” ujar peneliti lainnya, Friederike Otto, dari Imperial College London
Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News