
SURABAYA, 26 MEI 2026 – VNNMedia – Sosok Cak Kartolo kembali menjadi perhatian publik. Di usia 81 tahun, maestro ludruk asal Jawa Timur itu masih aktif tampil menghibur penonton sekaligus konsisten menjaga warisan budaya ludruk agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Bukan hanya piawai di atas panggung, Cak Kartolo ternyata juga dikenal disiplin mendokumentasikan perjalanan seninya sejak puluhan tahun lalu. Mulai dari naskah pertunjukan, skrip, agenda pentas hingga catatan tangan pribadi tersimpan rapi sejak era 1960-an.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, Yusuf Masruh mengatakan kedisiplinan Cak Kartolo dalam mengarsipkan perjalanan seninya menjadi salah satu faktor penting yang membuat kiprahnya mendapat pengakuan nasional.
“Aspek penilaiannya berasal dari arsip-arsip milik beliau. Sejak tahun 1960-an beliau sudah mendokumentasikan kegiatannya sendiri. Tidak punya manajer, tapi administrasinya tertata,” kata Yusuf, Jumat (22/5/2026).
Menurut Yusuf, kemampuan Cak Kartolo menjaga eksistensi ludruk selama puluhan tahun tidak lepas dari kemampuannya beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas budaya tradisional.
Ia menyebut pertunjukan ludruk yang dulu identik dengan kelompok besar dan musik konvensional kini berhasil dikemas lebih modern oleh Cak Kartolo melalui penggunaan sistem digital.
“Beliau mampu menyesuaikan tradisi ludruk dengan perkembangan era dan wilayah. Itu bentuk adaptasi,” ujarnya.
Tak hanya itu, Cak Kartolo juga dinilai memiliki kemampuan langka sebagai seniman ludruk yang mampu tampil solo meski berasal dari basis pertunjukan kelompok. “Beliau ini legenda yang bisa tampil solo, padahal dasarnya grup. Tidak semua seniman bisa seperti itu,” imbuh Yusuf.
Kemampuan improvisasi Cak Kartolo juga disebut masih sangat kuat. Saat diundang dalam sebuah acara, tema jula-juli atau parikan yang dibawakannya bisa langsung disesuaikan dengan karakter instansi maupun audiens yang hadir.
“Kalau diundang kantor, tema jula-juli bisa langsung disesuaikan dengan instansi yang mengundang. Tidak semua orang bisa seperti itu, apalagi di usia beliau yang sudah 81 tahun,” katanya.
Belum lama ini, Cak Kartolo juga tampil membawakan jula-juli di hadapan peserta Rapat Koordinasi Nasional Kearsipan di Jakarta. Penampilannya mendapat perhatian karena dinilai tetap relevan dan masih mampu diterima generasi muda.
Kiprah panjang Cak Kartolo akhirnya mendapat pengakuan dari Arsip Nasional Republik Indonesia melalui registrasi Memori Kolektif Bangsa (MKB) dalam ajang Anugerah Kearsipan 2026.
Program Memori Kolektif Bangsa merupakan upaya ANRI menyelamatkan arsip bernilai sejarah yang merepresentasikan identitas budaya bangsa.
Sebagai informasi, Cak Kartolo dikenal luas sebagai ikon ludruk Jawa Timur yang identik dengan jula-juli, yakni pantun atau parikan khas Jawa Timuran yang biasa menjadi pembuka pertunjukan ludruk.
Pengakuan terhadap arsip dan perjalanan seninya menjadi penegasan bahwa ludruk bukan sekadar hiburan rakyat, tetapi bagian penting dari memori budaya bangsa yang terus hidup lintas generasi.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News