Pemerintah Siapkan Strategi Utang 2026, Fokus Perkuat Rupiah dan Pasar Obligasi

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung

JAKARTA, 22 MEI 2026 – VNNMedia – Kementerian Keuangan memperkuat strategi pembiayaan negara tahun 2026 dengan fokus pada pendalaman pasar obligasi domestik, diversifikasi sumber pendanaan, serta pengelolaan utang yang lebih prudent di tengah gejolak ekonomi global.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan pemerintah akan memprioritaskan pembiayaan melalui utang domestik berbasis rupiah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Strategi pembiayaan 2026 memiliki tiga prinsip utama, yaitu memprioritaskan utang domestik dalam rupiah, pengelolaan komposisi mata uang secara hati-hati, serta active liability management,” ujar Juda dalam Indonesia Credit Spotlight 2026 di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Dalam strategi tersebut, pemerintah menargetkan sekitar 70 hingga 75 persen pembiayaan utang berasal dari pasar domestik menggunakan rupiah. Sementara 25 hingga 30 persen sisanya berasal dari pembiayaan valuta asing.

Menurut Juda, minat investor terhadap surat berharga negara Indonesia masih sangat kuat. Surat Utang Negara (SUN) tercatat mengalami kelebihan permintaan atau oversubscription hingga 2,4 kali, sedangkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mencapai 2,8 kali.

Selain itu, pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik juga mencatat arus modal masuk bersih sebesar Rp13,4 triliun sepanjang April 2026.

Di pasar global, pemerintah juga mencatat sejumlah capaian pembiayaan internasional, mulai dari penerbitan sukuk global senilai 2 miliar dolar AS yang mengalami oversubscription hampir dua kali lipat hingga penerbitan Samurai Bond sebesar 172 miliar yen Jepang.

Tak hanya itu, pemerintah kini tengah menyiapkan penerbitan Panda Bond dan Kangaroo Bond untuk memperluas basis investor internasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Juda menegaskan, strategi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas rupiah dan memperkuat ketahanan fiskal nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. “Kami terus memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia dan OJK melalui Forum KSSK agar kebijakan fiskal, moneter, dan pasar keuangan berjalan selaras,” katanya.

Pemerintah juga memastikan pengelolaan utang dilakukan secara disiplin melalui pengelolaan kas yang hati-hati, transparansi kebijakan pembiayaan, serta pengawasan aktif terhadap risiko pasar.

Langkah itu dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus memperdalam pasar keuangan domestik di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News