
SURABAYA, 19 MEI 2026 – VNNMedia – Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak mengajak generasi muda lebih peduli terhadap kesehatan mental serta berani speak up melawan segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan toxic relationship.
Pesan tersebut disampaikan Arumi saat menjadi narasumber dalam talkshow mental health di Universitas Hayam Wuruk Perbanas, Senin (18/5/2026).
Dalam diskusi tersebut, Arumi menyoroti masih banyaknya kasus KDRT yang kerap dianggap normal di tengah masyarakat. Padahal, menurutnya, kekerasan dalam hubungan tidak pernah dapat dibenarkan dengan alasan cinta.
“Korban harus tahu bahwa mereka tidak sendiri dan berhak mendapatkan perlindungan serta kehidupan yang aman,” ujar Arumi.
Talkshow juga menghadirkan Ayu Azhari, Tri Rismaharini, serta psikolog yang membahas kesehatan mental, relasi sehat, hingga pentingnya keberanian korban untuk mencari pertolongan.
Arumi menegaskan, hubungan yang sehat harus dibangun atas dasar rasa hormat, empati, dan komunikasi yang baik. Menurutnya, komunikasi menjadi kunci utama untuk menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
“Ketika komunikasi dibangun dengan baik, maka setiap persoalan bisa dicari jalan keluarnya bersama. Sebaliknya, ketika komunikasi tertutup dan emosi dipendam, konflik bisa berkembang menjadi hubungan yang tidak sehat,” katanya.
Ia menjelaskan, kekerasan dalam hubungan tidak selalu berbentuk fisik. Banyak korban justru mengalami kekerasan verbal, manipulasi emosional, kontrol berlebihan, hingga intimidasi yang perlahan merusak kesehatan mental.
“Kadang kekerasan tidak selalu berbentuk fisik. Ada kekerasan verbal, kontrol berlebihan, manipulasi emosional, hingga intimidasi yang perlahan melukai mental seseorang,” ungkapnya.
Arumi juga mengingatkan pentingnya lingkungan yang suportif bagi korban KDRT. Dukungan keluarga, sahabat, dan komunitas dinilai sangat penting agar korban memiliki keberanian keluar dari siklus kekerasan.
Menurutnya, banyak korban memilih diam karena takut, malu, atau merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita.
Selain itu, Arumi menyoroti peran orang tua dalam menciptakan lingkungan rumah yang sehat secara emosional bagi anak. Ia mengingatkan pertengkaran orang tua yang sering diperlihatkan di depan anak dapat berdampak terhadap psikologis dan pembentukan karakter mereka.
Ia menambahkan, trauma akibat KDRT tidak hanya meninggalkan luka
fisik, tetapi juga dampak psikologis jangka panjang yang dapat memengaruhi rasa percaya diri, hubungan sosial, hingga masa depan korban.
Karena itu, edukasi tentang kesehatan mental dan perlindungan korban kekerasan dinilai perlu terus diperkuat, termasuk melalui media kreatif seperti film dan diskusi publik.
“Kita ingin generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang berani menyuarakan kebenaran, menghargai sesama, dan menciptakan hubungan yang sehat tanpa kekerasan,” tegas Arumi.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News