Amran Bongkar Dugaan Mafia Minyak Goreng: Stok Melimpah, Harga Tetap Mahal

SURABAYA, 14 MEI 2026 – VNNMedia – Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menyoroti tingginya harga minyak goreng di pasaran meski Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Ia menduga ada praktik mafia distribusi yang memainkan rantai pasok sehingga harga tetap mahal di tengah stok yang melimpah.

Amran menegaskan pemerintah bersama Satgas Pangan akan terus memburu pelaku yang diduga menyebabkan kelangkaan maupun lonjakan harga minyak goreng. Produsen dan distributor yang terbukti melakukan permainan distribusi dipastikan akan diproses hukum.

“Yang bermain-main tangkap. Kita tangkap, proses hukum, tersangka. Yang main-main minyak kurang, sudah. Kita sportif, kita buka. Bahkan ada yang didenda sampai Rp11 triliun,” ujar Amran saat berkunjung ke Gudang Bulog Jatim di Romokalisari, Surabaya, Rabu (13/5/2026).

Menurut Amran, kondisi tingginya harga minyak goreng di Indonesia menjadi sesuatu yang tidak masuk akal. Sebab, Indonesia setiap tahun mengekspor minyak sawit dalam jumlah besar hingga mencapai 32 juta ton.

“Ini Indonesia anomali. Kita produsen terbesar dunia. Kita ekspor 32 juta ton. Kok di negeri sendiri harganya naik? Enggak masuk akal,” katanya.

Ia menilai lonjakan harga di tengah ketersediaan barang yang cukup menjadi indikasi adanya permainan di jalur distribusi. Karena itu, pemerintah meminta seluruh pihak ikut mengawasi dan membongkar praktik mafia pangan tersebut.

“Kalau harga naik sementara barang banyak, berarti ada apa di tengahnya? Nah itu ada mafia. Kita harus berantas bersama. Jangan lagi ditutupi,” tegasnya.

Amran juga menekankan pentingnya pengawasan publik terhadap kebijakan pemerintah, termasuk melalui media massa dan media sosial. Menurutnya, keterbukaan informasi saat ini membuat praktik spekulasi dan permainan distribusi lebih mudah terungkap.

“Sekarang bukan zamannya tertutup. Era media sosial seperti ini, siapa yang dapat informasi langsung bisa dipotong. Terutama produsen yang melakukan spekulasi,” ujarnya.

Ia menambahkan kritik konstruktif dari masyarakat dan media menjadi bagian penting untuk memperkuat tata kelola pangan nasional.

Sementara itu, Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho memastikan stok minyak goreng yang saat ini dikuasai Bulog Jatim mencapai sekitar 457 ribu liter. Jumlah tersebut diproyeksikan bertambah sekitar 900 ribu liter selama Mei 2026.

“Stok minyak yang kami kuasai saat ini sekitar 457 ribu liter. Di Mei ini kami juga sudah mendapat rencana tambahan sekitar 900 ribu liter,” ujar Langgeng.

Menurutnya, tambahan pasokan tersebut diharapkan mampu memperkuat distribusi minyak goreng di tengah tingginya permintaan masyarakat akibat harga pasar yang terus naik.

Bulog Jatim saat ini masih memprioritaskan distribusi minyak goreng ke pasar-pasar yang masuk dalam program Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Namun, jika tambahan pasokan mulai masuk, distribusi akan diperluas ke pasar lainnya.

“Kalau kuota tambahan sudah masuk, kami akan mulai menggelontorkan ke pasar-pasar lain selain SP2KP,” katanya.

Langgeng mengakui tingginya harga minyak goreng membuat permintaan terhadap minyak distribusi Bulog meningkat tajam. Bahkan stok Bulog sempat turun ke angka sekitar 300 ribu liter sebelum kembali bertambah menjadi 457 ribu liter. “Karena harga minyak tinggi, masyarakat banyak mencari minyak dari Bulog,” ujarnya.

Untuk mencegah penjualan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), Bulog menggandeng Satgas Pangan dan Dinas Perdagangan di daerah guna mengawasi distribusi di tingkat pengecer.

“Kami menggandeng Satgas Pangan dan Dinas Perdagangan supaya pengecer tidak menjual di atas HET,” kata Langgeng.

Ia juga mengungkapkan distribusi minyak goreng nasional sebagian besar masih dikuasai pihak swasta. Menurutnya, Bulog hanya menguasai sekitar 17 hingga 20 persen distribusi minyak goreng nasional, sedangkan sekitar 65 persen dikuasai sektor swasta dan sisanya oleh BUMN pangan.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News