
Surabaya, Selasa 12 Mei 2026-VNNMedia- Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai pusat peradaban, ruang aman bagi sivitas akademika, sekaligus motor inovasi nasional dalam Forum Diskusi Panel di Festival Kebangsaan “GEMA KAMPUS” Seri 7 yang diselenggarakan di Gedung Rektorat Universitas Negeri Surabaya, Sabtu (9/5/2026).
Forum yang mempertemukan para rektor, pejabat pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan ini mengangkat tema “Sejarah dan Budaya sebagai Rute Peradaban dan Energi Potensial Bangsa,” sekaligus menjadi ruang refleksi atas tantangan nyata yang dihadapi perguruan tinggi saat ini—mulai dari penguatan karakter kebangsaan hingga isu keamanan dan keberlanjutan lingkungan kampus.
Dalam konteks yang lebih luas, tema diskusi ini juga memiliki relevansi strategis terhadap penguatan stabilitas dan keamanan nasional. Penguatan literasi sejarah, nilai budaya, serta karakter kebangsaan di lingkungan perguruan tinggi dinilai menjadi fondasi penting dalam mencegah disintegrasi sosial, radikalisme, dan berbagai bentuk konflik yang berpotensi mengganggu ketahanan nasional. Dengan demikian, kampus tidak hanya berperan sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai benteng kultural yang memperkuat kohesi sosial dan persatuan bangsa.
Ketua MRPTNI, Prof. Eduart Wolok, menekankan bahwa kampus sebagai ruang sosial yang dinamis memerlukan tata kelola yang adaptif dan kolaboratif. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi kunci agar kampus dapat menjalankan perannya secara optimal sebagai mitra strategis negara dalam membangun peradaban bangsa.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Choiri Fauzi, dalam paparannya menegaskan bahwa ukuran kemajuan peradaban tidak hanya terletak pada capaian teknologi, tetapi juga pada kualitas penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Ia menempatkan kampus sebagai “laboratorium peradaban” yang memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berempati dan berintegritas.
“Kampus bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan ‘laboratorium peradaban’, ruang lahirnya gagasan, nilai dan gerakan perubahan. Di sinilah karakter dan budaya bangsa dibentuk, mempersiapkan pemimpin masa depan yang memiliki empati, integritas, dan penghormatan terhadap sesama,” tandasnya.
Ia menegaskan perguruan tinggi harus menjadi ruang yang aman dan inklusif bagi semua pihak. “Kita tidak boleh mentolerir kekerasan dalam bentuk apa pun, karena dari kampuslah lahir pemimpin masa depan yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa data nasional menunjukkan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, yang menjadi alarm serius bagi semua pihak, termasuk institusi pendidikan tinggi. Karena itu, ia mendorong penguatan sistem pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di kampus melalui implementasi regulasi, penguatan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS), serta penyediaan layanan perlindungan yang komprehensif bagi korban.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran sentral dalam membangun masa depan bangsa melalui inovasi dan teknologi. Ia menyatakan bahwa kampus harus mampu melahirkan solusi nyata berbasis riset untuk menjawab berbagai tantangan nasional, termasuk swasembada pangan, energi, dan pengelolaan lingkungan.
“Kampus tidak cukup hanya menjadi pusat ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi harus menjadi role model dalam menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat—baik dalam pengelolaan pangan, energi, maupun lingkungan berbasis teknologi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya peran kampus dalam mendukung agenda strategis nasional, termasuk penguatan sistem pangan dan gizi. “Perguruan tinggi perlu menjadi role model dalam pengelolaan SPPG MBG terbaik yang dapat menjadi rujukan nasional. Ini adalah bagian dari kontribusi nyata kampus dalam mendukung program pemerintah sekaligus memastikan kualitas sumber daya manusia Indonesia ke depan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga memberikan apresiasi khusus kepada Universitas Negeri Surabaya yang dinilainya telah menunjukkan praktik nyata dalam inovasi pengelolaan lingkungan.
“UNESA menjadi kampus pertama yang mendeklarasikan pengelolaan sampah 100 persen secara mandiri di lingkungan kampus. Ini adalah contoh konkret bagaimana kampus dapat menjadi laboratorium solusi yang relevan dan berdampak. Praktik seperti ini perlu direplikasi secara nasional,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa antara riset, publikasi, inovasi dan hilirisasi jangan saling dipertentangkan, semuanya berjalin berkelindan satu sama lain. Penguatan riset dasar harus berjalan beriringan dengan hilirisasi, sehingga inovasi yang dihasilkan tidak berhenti pada publikasi, tetapi benar-benar memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat luas.
“Inovasi berbasis riset harus menjadi fondasi utama dalam memperkuat daya saing bangsa di tingkat global. Kami berharap kampus terus memperkuat kontribusinya dalam pembangunan Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaulat,” tambahnya.
Diskusi juga mempertemukan berbagai pandangan dari para rektor dan pemangku kepentingan, yang menyoroti pentingnya pendekatan komprehensif dalam membangun kampus yang aman dan berkeadaban. Upaya tersebut mencakup penguatan literasi kewargaan, pendidikan karakter, serta sinergi lintas kementerian dalam penanganan kasus kekerasan di lingkungan perguruan tinggi.
Selain itu, forum ini menegaskan bahwa perguruan tinggi harus terus memperkuat perannya sebagai pusat riset, inovasi, dan solusi kebangsaan. Kampus didorong untuk menjadi pilot project dalam menjawab berbagai persoalan strategis nasional melalui pendekatan berbasis data dan ilmu pengetahuan.
Forum Diskusi Panel ini merupakan bagian dari rangkaian Rector’s Expressions (REx) Chapter 3 MRPTNI yang bertujuan merumuskan arah strategis perguruan tinggi dalam memperkuat literasi sejarah dan budaya, membangun karakter generasi muda, serta meningkatkan kontribusi Indonesia dalam percaturan global.
Melalui forum ini, MRPTNI menegaskan bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh kemampuan perguruan tinggi dalam mengintegrasikan nilai-nilai peradaban dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kampus diharapkan mampu melahirkan generasi unggul yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama serta lingkungan. (***)
Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News