Realisasi Pembiayaan APBN 2026 Capai Rp164,2 Triliun, Wamenkeu Juda: Masih Terkendali

JAKARTA, 16 MARET 2026 – VNNMedia – Realisasi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 hingga akhir Februari tercatat masih berada dalam kondisi terkendali. Pemerintah menilai strategi pembiayaan yang dijalankan mampu menjaga stabilitas fiskal di tengah dinamika pasar keuangan global.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyampaikan, pemerintah menerapkan strategi pembiayaan yang bersifat antisipatif guna memastikan ketersediaan kas negara tetap terjaga sekaligus mempertahankan fleksibilitas fiskal.

“Strategi pembiayaan dilakukan secara antisipatif untuk memastikan kas negara memadai sekaligus menjaga fleksibilitas dalam merespons dinamika pasar yang sedang berlangsung,” ujar Juda Agung dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, pekan lalu.

Hingga 28 Februari 2026, realisasi pembiayaan anggaran tercatat mencapai Rp164,2 triliun atau sekitar 23,5 persen dari target dalam APBN 2026. Jumlah tersebut terdiri atas pembiayaan utang sebesar Rp185,3 triliun dan pembiayaan non-utang yang tercatat negatif Rp21,1 triliun.

Pendanaan dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih menjadi sumber utama pembiayaan utang pemerintah. Tingginya minat investor terlihat dari rasio bid to cover pada lelang Surat Utang Negara (SUN) yang tetap berada di atas dua kali. Sementara itu, untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), rasio tersebut bahkan mencapai 3,1 kali.

Menurut Juda Agung, capaian ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat meskipun pasar global masih diliputi ketidakpastian.

“Hal ini menunjukkan minat dan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah volatilitas pasar keuangan global,” jelasnya.

Minat investor asing terhadap SBN juga tetap stabil. Rasio bid to cover investor asing pada SUN tercatat sebesar 2,4 kali, sementara untuk SBSN mencapai 2,8 kali. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain dari pasar domestik, pemerintah juga memanfaatkan pasar global dengan menerbitkan obligasi dalam dua mata uang pada Februari 2026, yakni renminbi (CNH) dan euro.

Meski demikian, perkembangan pasar SBN tetap dipengaruhi dinamika global yang cukup volatil. Secara year-to-date, imbal hasil SBN meningkat sekitar 55 basis poin yang turut mendorong pelebaran spread yield terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury.

Per 6 Maret 2026, spread SBN tenor 10 tahun terhadap US Treasury tercatat sekitar 243 basis poin. Pemerintah menilai posisi tersebut masih kompetitif di tengah kondisi pasar global.

“Pemerintah bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, serta pemangku kepentingan lainnya akan terus memantau perkembangan pasar untuk menjaga stabilitas keuangan domestik,” kata Juda Agung.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News