
SURABAYA, 16 MARET 2026 – VNNMedia – Pameran Kiswah milik ulama besar dunia Islam, Syekh Abdul Qadir Al Jailani, digelar sepanjang bulan Ramadan di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Pameran ini menghadirkan berbagai artefak bersejarah serta manuskrip kitab klasik yang menjadi bagian penting dari khazanah keilmuan Islam.
Salah satu koleksi utama yang dipamerkan adalah kiswah peninggalan Syekh Abdul Qadir Al Jailani, yakni kain penutup makam ulama sufi besar tersebut yang berada di Baghdad, Irak. Kiswah tersebut biasanya diganti setiap tahun sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang dikenal luas dalam tradisi tasawuf dan keilmuan Islam.
Kiswah yang dipamerkan di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya memiliki nilai historis tersendiri. Kain tersebut merupakan pemberian langsung dari cicit ke-33 sang ulama, Syekh Afeefuddin Al Jailani, kepada Khofifah Indar Parawansa saat berziarah ke makam Syekh Abdul Qadir Al Jailani di Baghdad.
Menurut Khofifah Indar Parawansa, keberadaan kiswah tersebut bukan sekadar benda bersejarah, tetapi juga simbol kuat dari sanad keilmuan dan spiritualitas yang diwariskan para ulama kepada generasi berikutnya.
“Ini bukan sekadar artefak sejarah, tetapi juga pengingat bagi kita tentang pentingnya menjaga warisan keilmuan, akhlak, dan spiritualitas yang diwariskan para ulama,” ujarnya.
Selain kiswah, pameran ini juga menampilkan dokumentasi perjalanan Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dari masa ke masa. Arsip foto dan dokumentasi visual yang dipamerkan menggambarkan transformasi masjid yang kini menjadi salah satu ikon religi sekaligus pusat kegiatan sosial dan edukasi di Jawa Timur.
Pengunjung juga dapat melihat berbagai manuskrip kitab klasik yang menjadi rujukan dalam tradisi pembelajaran di pesantren. Di antaranya Kitab Tashrif Lughati, Kitab Amil, Kitab Fiqh, hingga Kitab Bahjatul Ulum yang mencerminkan kekayaan literasi keilmuan Islam dari berbagai negara.
Tak hanya itu, pameran juga menghadirkan informasi mengenai sejarah dan keteladanan para ulama Jawa Timur yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Beberapa tokoh yang ditampilkan antara lain KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, HOS Tjokroaminoto, KH. Mas Mansur, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Raden As’ad Syamsul Arifin, KH. Abdul Wahid Hasyim, KH. Masykur, Abdurrahman Wahid, serta Syaikhona Muhammad Kholil.
Pameran ini diharapkan menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal lebih dekat sejarah, tradisi keilmuan, serta keteladanan para ulama yang berperan besar dalam perkembangan Islam dan perjalanan bangsa.
Melalui kegiatan tersebut, Khofifah Indar Parawansa juga menegaskan pentingnya menjaga dan merawat turats atau warisan keilmuan klasik agar tetap hidup dan dapat diakses oleh generasi mendatang.
Ia menambahkan, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran dan penguatan karakter umat.
“Masjid harus terus menjadi pusat pembinaan umat, ruang belajar, sekaligus ruang kolaborasi yang ramah bagi generasi muda untuk menumbuhkan nilai-nilai kebaikan,” katanya.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News