Inflasi Surabaya 5,11%, Pemkot Genjot Pasar Murah dan Operasi Pasar

SURABAYA, 14 MARET 2026 – VNNMedia – Pemerintah Kota Surabaya memperkuat langkah pengendalian harga pangan di tengah dinamika inflasi awal 2026. Sejumlah program intervensi pasar seperti pasar murah, operasi pasar, hingga sidak distribusi bahan pokok digencarkan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi daya beli masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi year on year (y-on-y) Surabaya pada Februari 2026 mencapai 5,11 persen. Meski demikian, pemerintah kota menilai kondisi tersebut masih relatif terkendali jika dilihat dari indikator inflasi sejak awal tahun.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Surabaya Vykka Anggradevi Kusuma menjelaskan inflasi year to date (y-to-d) Surabaya dari Januari hingga saat ini tercatat sekitar 0,83 persen, yang masih berada dalam batas aman.

“Secara year on year memang 5,11 persen. Tapi kalau dilihat year to date, inflasi Surabaya masih di kisaran 0,83 persen, sehingga masih relatif terkendali,” ujarnya, Jumat (13/3/2026).

Meski demikian, Pemkot tetap mengambil langkah antisipatif karena inflasi dipengaruhi banyak faktor, mulai dari harga bahan pokok, komoditas emas, hingga tarif transportasi udara.

Menurut Vykka, penyumbang terbesar inflasi Surabaya justru berasal dari komoditas emas dan tarif angkutan udara, bukan dari kelompok bahan pangan.

Ia memperkirakan kontribusi sektor transportasi udara terhadap inflasi masih berpotensi meningkat menjelang libur Lebaran, mengingat tingginya permintaan perjalanan pada periode tersebut.

“Pada Januari hingga Februari kemarin, angkutan udara menjadi salah satu penyumbang inflasi. Menjelang Lebaran kemungkinan masih akan berpengaruh,” katanya.

Sementara dari kelompok pangan, komoditas cabai menjadi salah satu yang mengalami kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini dipicu faktor cuaca, terutama musim hujan yang berdampak pada produksi dan distribusi cabai.

Untuk menekan lonjakan harga, Pemkot Surabaya menggencarkan Pasar Murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), serta operasi pasar yang bekerja sama dengan Pasar Induk Surabaya Sidotopo. Melalui program ini, cabai dijual dengan harga lebih terjangkau bagi masyarakat.

Selain itu, pemerintah kota juga memantau harga beras, khususnya beras premium yang memiliki permintaan cukup tinggi di pasar.
Sebagai langkah stabilisasi, Pemkot bekerja sama dengan Perum Bulog untuk menyediakan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Saat ini, harga beras premium di Surabaya masih relatif stabil di kisaran Rp16.000 per kilogram, sehingga dinilai masih terjangkau bagi masyarakat.

Melalui berbagai intervensi tersebut, Pemkot Surabaya berharap stabilitas harga pangan tetap terjaga sekaligus memastikan pasokan bahan pokok tetap aman menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News