Harga Pangan Global Mulai Stabil Awal 2026, Produksi Pertanian Jadi Penopang

JAKARTA, 13 MARET 2026 – VNNMedia – Di tengah ketegangan geopolitik global dan fluktuasi harga komoditas dunia, sektor pertanian dinilai tetap menjadi penyangga utama ketahanan pangan. Perbaikan produksi pertanian di sejumlah negara, termasuk Indonesia, turut membantu meredam tekanan harga pangan global pada awal 2026.

Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan dari Institute for Development of Economics and Finance, Afaqa Hudaya, mengatakan harga pangan global mulai memasuki fase stabilisasi meski belum sepenuhnya pulih.

Menurutnya, pada awal 2026 beberapa komoditas pangan masih mencatat pertumbuhan harga negatif, namun secara umum tren tekanan harga mulai mereda.

“Perkembangan harga pangan global mulai menunjukkan fase stabilisasi, meskipun sebagian komoditas masih mencatat pertumbuhan negatif pada awal tahun 2026,” ujarnya dalam diskusi publik bertajuk Ekonomi Lebaran di Tengah Gejolak Perang yang digelar secara daring, Senin (9/3/2026).

Afaqa menjelaskan, stabilisasi harga pangan global saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor produksi dan ketersediaan stok yang relatif memadai dibandingkan oleh peningkatan permintaan.

Hal tersebut juga sejalan dengan laporan Global Economic Prospects 2026 dari World Bank yang mencatat adanya peningkatan output sektor pertanian di sejumlah negara, didukung kondisi cuaca yang lebih kondusif.

Di dalam negeri, dinamika harga pangan pada awal 2026 juga cenderung lebih terkendali dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan pasokan pangan yang relatif terjaga meskipun beberapa komoditas seperti beras medium, gula, dan minyak goreng mengalami kenaikan harga.

Ia menilai, peningkatan permintaan musiman menjelang Ramadan dan Idulfitri memang berpotensi mendorong tekanan harga. Namun selama pasokan dan distribusi pangan dapat dikelola dengan baik, lonjakan harga masih dapat dikendalikan.

Meski demikian, tantangan yang masih dihadapi adalah disparitas harga antarwilayah. Data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis menunjukkan sejumlah komoditas seperti bawang merah dan cabai mengalami kenaikan harga di beberapa daerah meskipun stok nasional relatif mencukupi.

Menurut Afaqa, kondisi tersebut umumnya dipicu faktor struktural seperti ketimpangan informasi dalam rantai pasok serta efisiensi distribusi antarwilayah. “Hal ini menunjukkan pentingnya penguatan sistem distribusi dan transparansi informasi pasar agar harga lebih stabil dari tingkat produsen hingga konsumen,” katanya.

Terpisah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan pemerintah terus memantau produksi dan stok pangan nasional untuk menjaga ketersediaan pasokan bagi masyarakat.

Berdasarkan data per Maret 2026, kondisi pangan nasional—terutama beras—dalam posisi aman. Produksi beras nasional tercatat berkisar antara 2,6 juta hingga 5,7 juta ton per bulan, lebih tinggi dari rata-rata konsumsi nasional sekitar 2,59 juta ton per bulan.

Total ketersediaan beras nasional saat ini mencapai 27,99 juta ton, terdiri dari stok Perum Bulog sebesar 3,76 juta ton, stok masyarakat sekitar 12,50 juta ton, serta standing crop atau padi siap panen sebesar 11,73 juta ton.

Menurut Amran, jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional dalam jangka panjang. “Kalau kita lihat data hari ini, ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan,” ujarnya.

Dengan kondisi produksi yang relatif kuat dan pasokan yang tetap terjaga, sektor pertanian diharapkan terus menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus meredam dampak gejolak ekonomi global terhadap perekonomian domestik.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News