
JEMBER, 10 Maret 2026 – VNNMedia – Pemerintah Kabupaten Jember melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) kembali menegaskan komitmennya dalam memberikan perhatian kepada para tokoh pendidikan keagamaan di tengah masyarakat. Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah (10/3/2026), Pemkab Jember menyalurkan insentif bagi para guru ngaji, modin, serta guru agama nonmuslim yang selama ini menjadi garda terdepan dalam pembinaan moral dan spiritual masyarakat.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setdakab Jember, Nurul Hafid Yasin, menjelaskan bahwa penyaluran insentif ini merupakan bagian dari program pemerintah daerah pada Tahun Anggaran 2026 sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi para pengajar agama yang selama ini mengabdikan diri di tengah masyarakat.
“Melalui program ini, Pemerintah Kabupaten Jember ingin memberikan apresiasi kepada para guru ngaji, modin, serta guru agama nonmuslim yang telah berperan besar dalam membimbing kehidupan beragama di masyarakat,” ujar Nurul Hafid Yasin.
Pada tahap penyaluran hari ini, pemerintah menyalurkan insentif kepada 1.955 penerima yang tersebar di tujuh kecamatan di Kabupaten Jember. Masing-masing penerima mendapatkan honor sebesar Rp1.500.000 yang diberikan secara langsung melalui balai desa atau kelurahan setempat.
Nurul Hafid menegaskan bahwa proses pencairan dilakukan secara transparan dan tanpa potongan apapun. Pemerintah daerah juga memastikan bahwa seluruh dana yang dialokasikan akan diterima secara utuh oleh para penerima manfaat.
“Tidak ada potongan maupun setoran awal dalam pencairan insentif ini. Dana yang belum diambil tetap utuh tanpa pengurangan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, sistem penyaluran dilakukan secara bergilir dengan melibatkan sekitar 30 desa setiap hari. Pola tersebut dipilih agar distribusi insentif dapat berjalan cepat dan tepat sasaran, mengingat waktu menuju Hari Raya Idul Fitri yang semakin dekat.
“Karena waktunya relatif singkat menuju Lebaran, maka penyaluran dilakukan secara maraton agar seluruh penerima bisa segera merasakan manfaatnya,” kata Nurul Hafid.
Program insentif ini diharapkan tidak hanya menjadi bentuk penghargaan simbolis, tetapi juga mampu membantu kebutuhan ekonomi para tokoh agama menjelang hari raya, sekaligus memperkuat semangat mereka dalam terus mendidik generasi muda.
Di Balai Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, salah satu penerima insentif adalah Yuliana Ika, seorang guru ngaji yang telah hampir satu dekade mengabdikan diri mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di lingkungannya. Ia mengaku bersyukur atas perhatian pemerintah daerah terhadap para guru ngaji yang selama ini mengajar dengan penuh keikhlasan.
“Alhamdulillah menerima insentif guru ngaji. Prosesnya juga cepat karena hanya membawa KTP dan buku tabungan untuk dicocokkan,” ujarnya.
Bagi Yuliana, kegiatan mengajar mengaji bukan sekadar rutinitas, melainkan panggilan hati. Selama hampir sepuluh tahun, ia membimbing anak-anak belajar membaca Al-Qur’an di mushola kecil yang berada tepat di samping rumahnya.
Mushola tersebut dibangun secara swadaya di atas lahan kosong milik keluarga. Tempat sederhana itu menjadi ruang belajar bagi anak-anak sekitar yang ingin memperdalam bacaan Al-Qur’an dan pendidikan agama.
“Sudah hampir sepuluh tahunan mengajar di mushola samping rumah. Awalnya ada lahan kosong, lalu kami bangun mushola sendiri,” katanya.
Selain aktif sebagai guru ngaji, Yuliana juga terlibat dalam dunia pendidikan formal. Ia merupakan pendiri sebuah bimbingan belajar (bimbel) dan juga mengajar sebagai guru di Raudhatul Athfal (RA).
Selama menjadi guru ngaji, ia mengaku telah beberapa kali menerima insentif dari pemerintah daerah. Namun menurutnya, nominal yang diterima tahun ini terasa lebih besar dan sangat membantu, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Dana yang diterimanya tidak hanya akan digunakan untuk kebutuhan keluarga, tetapi juga dialokasikan untuk pembangunan fasilitas mushola tempat ia mengajar. Saat ini, mushola tersebut tengah menjalani proses perbaikan.
Yuliana juga berharap program insentif ini ke depan dapat menjangkau lebih banyak guru ngaji yang selama ini belum terdata sebagai penerima. “Harapannya ke depan bisa lebih menyeluruh lagi, supaya guru ngaji yang belum terdata juga bisa merasakan insentif dari pemerintah,” tuturnya.
Program penyaluran insentif ini menjadi salah satu langkah nyata Pemerintah Kabupaten Jember dalam memberikan perhatian kepada para tokoh pendidikan keagamaan. Di tengah kesederhanaan tempat-tempat belajar yang mereka bangun secara swadaya, para guru ngaji terus menyalakan cahaya ilmu bagi generasi muda.
Telusuri berita lain di Google News VNNMedia