
JAKARTA, 14 FEBRUARI 2026 – VNNMedia — Tekanan finansial kian membebani pekerja Indonesia. Riset terbaru mengungkap 90% pekerja menanggung dua generasi sekaligus—orang tua dan anak—sebuah kondisi yang dikenal sebagai sandwich generation.
Dampaknya langsung terasa pada kesiapan pensiun: 40% responden menurunkan ekspektasi gaya hidup saat pensiun, sementara 23% memilih menunda pensiun atau memperkirakan tetap bekerja setelah usia pensiun.
Temuan tersebut berasal dari survei Sun Life Indonesia bertajuk Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide. Studi ini juga mencatat 77% responden Indonesia memperkirakan tetap bekerja setelah pensiun, mencerminkan kombinasi antara pilihan fleksibilitas dan tekanan ekonomi.
Tekanan ini muncul di tengah perubahan demografi. Data ESCAP (2023) menunjukkan populasi Indonesia usia 60 tahun ke atas mencapai 30,9 juta orang (11,1%) pada 2023 dan diproyeksikan meningkat menjadi 64,9 juta orang (20,5%) pada 2050.
Usia harapan hidup yang lebih panjang memperluas masa produktif sekaligus meningkatkan kebutuhan perencanaan keuangan jangka panjang.
Sebanyak 71% responden mengaku membutuhkan penghasilan tambahan untuk menjaga biaya hidup dan keamanan finansial di masa depan.
Riset juga mengelompokkan responden menjadi Gold Star Planners (perencana matang) dan Stalled Starters (menunda perencanaan). Di kelompok yang menunda, 43% menyebut biaya pendidikan dan kebutuhan anak sebagai alasan utama.
Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menilai ada dua realitas yang berjalan paralel. “Bagi yang siap, bekerja lebih lama adalah pilihan yang memberi fleksibilitas. Bagi yang lain, itu cerminan tekanan finansial. Perencanaan pensiun lebih awal dan menyeluruh menentukan realitas mana yang akan dijalani,” ujarnya.
Menariknya, perilaku pencarian informasi finansial juga berubah. Penggunaan generative AI untuk mendukung keputusan finansial melonjak dari 13% menjadi 30%. Sebaliknya, konsultasi ke bank turun dari 40% ke 31%, dan ke penasihat keuangan independen dari 44% ke 31%.
Meski teknologi membantu sebagai sumber awal, Albertus menegaskan keputusan jangka panjang tetap memerlukan panduan komprehensif.
Dari sisi psikologis, keamanan finansial berkorelasi kuat dengan optimisme pensiun. Di antara responden yang optimistis, 60% menyebut rasa aman finansial sebagai faktor utama. Sebaliknya, kekhawatiran terbesar kelompok yang gelisah adalah
ketidakmampuan mendukung keluarga secara finansial (44%).
Masih ada celah besar dalam kesiapan: 24% responden belum memiliki rencana pensiun, 34% baru menyusunnya dua tahun sebelum berhenti bekerja, dan hanya 38% yang merasa sangat percaya diri dengan rencana pensiun mereka.
Temuan ini menegaskan urgensi edukasi dan solusi keuangan agar pensiun menjadi peluang, bukan tekanan—terutama bagi generasi sandwich.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News