
Phnom Penh, Sabtu 02 Agustus 2025-VNNMedia- Kamboja secara mengejutkan mengumumkan akan mencalonkan Donald Trump sebagai penerima Nobel Perdamaian
Hal tersebut diungkap oleh Wakil Perdana Menteri Kamboja Sun Chanthol dalam wawancaranya dengan Wall Street Journal, Jumat (1/8). “Dia (Trump) harus mendapat hadiah Nobel, tak hanya kontribusinya terhadap Kamboja tapi juga di tempat lain,” terang Chanthol
Adapun alasan Kamboja mengusung presiden AS tersebut adalah merujuk pada upaya Trump membantu mengakhiri konflik negara tersebut dengan Thailand yang sempat memanas beberapa waktu lalu. Ia mengaku mungkin Kamboja tak mungkin sepakat mengakhiri perang dengan Thailand jika tanpa campur tangan Donald Trump
Sebagai bukti keseriusannya, pemerintah Kamboja akan segera berkomunikasi dengan Komite Nobel di Norwegia. Langkah tersebut menjadikan Kamboja negara ketiga yang menominasikan Trump sebagai penerima Nobel Perdamaian untuk tahun ini
Diketahui sebelumnya, Pakistan pada pertengahan Juni lalu mengumumkan akan mencalonkan Trump sebagai penerima Nobel Perdamaian 2025
baca juga: Pakistan Resmi Calonkan Donald Trump untuk Nobel Perdamaian
Kemudian pada awal Juli, PM Israel Benjamin Netanyahu menyatakan akan berkirim surat pencalonan Trump ke Komite Nobel. “Di satu negara dan satu kawasan ke kawasan lainnya. Karena itu saya ingin menyerahkan kepada anda, tuan Presiden, surat yang saya kirim ke Komite Nobel. Surat ini mencalonkan anda untuk menerima Nobel Perdamaian, yang sangat layak anda terima,” ujar Netanyahu
baca juga: Giliran Israel Calonkan Trump Terima Nobel Perdamaian
Sebagai informasi, Presiden Donald Trump mengklaim telah berperan dalam memediasi gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja menyusul bentrokan perbatasan yang mematikan. Trump dilaporkan berbicara langsung dengan para pemimpin dari kedua negara dan memberikan peringatan bahwa Amerika Serikat tidak akan melanjutkan negosiasi atau kesepakatan perdagangan jika konflik bersenjata terus berlanjut
Pernyataan ini, yang ia bagikan melalui media sosialnya, bertujuan untuk memberikan tekanan diplomatik agar kedua negara segera duduk bersama untuk menyelesaikan perselisihan. Klaimnya ini muncul di tengah upaya mediasi yang juga dilakukan oleh pihak lain, seperti Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang memimpin perundingan gencatan senjata resmi antara kedua negara
sumber: Antara
Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News