
MALANG, 16 APRIL 2026 – VNNMedia – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meninjau operasional Terminal Landungsari, Kabupaten Malang, Rabu (15/4/2026). Kunjungan ini untuk memastikan optimalisasi layanan transportasi publik sekaligus memperkuat konektivitas terintegrasi di kawasan Malang Raya.
Terminal Landungsari yang dikelola Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur merupakan terminal penumpang tipe B yang melayani angkutan antarkota dalam provinsi, terutama rute Malang–Batu–Kediri dan sekitarnya.
Berlokasi di Jalan Raya Tlogomas, Kecamatan Dau, terminal ini beroperasi 24 jam dan menjadi simpul penting bagi bus umum, angkutan pedesaan, serta layanan Trans Jatim.
Menurut Emil, Terminal Landungsari memegang peran strategis dalam mendukung mobilitas masyarakat bersama Terminal Hamid Rusdi di Kota Malang dan terminal di Kota Batu sebagai jaringan transportasi utama di wilayah aglomerasi Malang Raya.
Ia menegaskan, integrasi layanan transportasi melalui Trans Jatim Koridor Malang–Batu atau Koridor Gajayana mendapat sambutan positif dari masyarakat. Layanan bus berkapasitas 35 penumpang tersebut melayani rute Terminal Hamid Rusdi hingga Terminal Batu sejauh 42 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 100 hingga 110 menit.
Dengan tarif Rp5.000 untuk umum dan Rp2.500 bagi pelajar, mahasiswa, serta santri, layanan Trans Jatim dinilai menjadi alternatif transportasi yang efisien dan terjangkau, baik bagi warga lokal maupun wisatawan.
“Transportasi publik yang tertib, terjadwal, dan tidak ngetem memang sangat dibutuhkan masyarakat. Respons pengguna Trans Jatim sangat baik, termasuk dari wisatawan,” kata Emil.
Ia juga menegaskan bahwa kehadiran Trans Jatim tidak menggantikan moda transportasi lain seperti mikrolet, melainkan melengkapi layanan angkutan yang sudah ada. Menurutnya, setiap moda memiliki segmen pengguna berbeda sehingga dapat saling mendukung dalam ekosistem transportasi publik.
Selain meninjau layanan transportasi, Emil menyoroti pentingnya optimalisasi aset Terminal Landungsari yang memiliki lokasi strategis, dekat kawasan pendidikan dan fasilitas kesehatan, termasuk Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Menurutnya, pemanfaatan aset terminal secara maksimal dapat meningkatkan potensi pendapatan daerah yang nantinya digunakan untuk mendukung pembiayaan layanan publik.
Meski demikian, Emil mengakui masih ada sejumlah tantangan yang perlu dibenahi, terutama terkait peningkatan kenyamanan fasilitas penumpang seperti toilet, ruang tunggu, dan efisiensi energi operasional terminal.
Ia menambahkan, pengelolaan energi juga perlu dilakukan secara bijak, termasuk penggunaan pendingin ruangan yang disesuaikan dengan tingkat okupansi penumpang agar tetap efisien tanpa mengurangi kenyamanan.
Pemprov Jawa Timur berharap penguatan transportasi publik terintegrasi dan optimalisasi Terminal Landungsari dapat semakin meningkatkan konektivitas Malang Raya, sekaligus mendukung mobilitas warga dan pertumbuhan sektor pariwisata secara berkelanjutan.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News