Film Indonesia “Vaterland or A Bule Named Yanto” Raih CANAL+ Award di Cannes 2026

Cannes, Jumat 22 Mei 2026-VNNMedia- Sebuah film pendek karya sineas Indonesia mendapat penghargaan di ajang festival film bergengsi dunia, Cannes 2026

Film berjudul “Vaterland or A Bule Named Yanto” karya sutradara Berthold Wahjudi herhasil meraih CANAL+ Award pada La Semaine de la Critique atau Cannes Critics’ Week-sebuah program yang menjadi rangkaian Festival Film Cannes 2026-yang berlangsung pada 13-21 Mei

Melansir Antara, menurut Annisa Adjam selaku produser, mendapat sambutan luar biasa dari penonton merupakan pengalaman yang sangat berarti bagi tim produksi

“Bisa membuat film berlatar di Jogja dengan perspektif minoritas, orang dengan kultur campuran seperti ini, lalu mendapatkan reaksi yang sangat baik dari penonton Cannes kemarin, menjadi pengalaman yang sangat berarti buat kami,” ujar Annisa sembari berharap bahwa capain ini dapat membuka ruang pemutaran lebih luas bagi “Vaterland”, baik di Indonesia maupun negara lainnya

“Vaterland or A Bule Named Yanto” sendiri telah melakukan penayangan global perdana melalui kompetisi resmi Cannes Critic’s Week pada 19 Mei 2026

Dilema Identitas Sang “Bule” dalam Film “Vaterland”

Film “Vaterland or A Bule Named Yanto” yang berdurasi 25 menit ini mengangkat isu sensitif mengenai krisis identitas diaspora yang dikemas lewat genre dramedy. Menggunakan format seluloid 16mm, proses syuting film ini mengambil latar di dua negara, yaitu Yogyakarta (Indonesia) dan Munich (Jerman)

Cerita film berfokus pada Yanto (diperankan oleh Aggai Saibuma), seorang pemuda berdarah campuran Jerman-Indonesia yang melakukan perjalanan ke Yogyakarta untuk menemui adik perempuannya (Sarah Muckarin Röser)

Alih-alih mendapatkan reuni keluarga yang hangat, Yanto justru dihadapkan pada kenyataan getir: adiknya sangat mudah membaur dengan kebudayaan lokal, sementara dirinya merasa sepenuhnya asing.

Di sinilah konflik batin Yanto bermula. Ia terjebak dalam dilema ruang tunggu identitas: di Jerman ia kerap dicap sebagai imigran, namun di Indonesia ia justru dipandang sebelah mata sebagai bule atau turis asing yang memiliki hak istimewa (privilege)

Terinspirasi dari Kisah Nyata

Struktur skenario film ini dibagi menjadi empat babak yang emosional sekaligus menggelitik. Sutradara Berthold Wahjudi mengaku naskah ini lahir dari pengalaman pribadinya sendiri sebagai seorang mixed-race

Ide cerita terantik dari sebuah foto masa lalu saat ia berkunjung ke Indonesia; ia dikerubungi anak-anak sekolah yang meminta foto bersama karena fisiknya yang tampak seperti bule

Rasa canggung, humor, dan keterasingan di momen itulah yang kemudian ia tuangkan ke dalam skenario film ini. “Vaterland or A Bule Named Yanto” merupakan karya kolaborasi antara Aftersun Creative (Indonesia) bersama madfilms (Jerman)

Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News