
SIDOARJO, 7 Mei 2026 – VNNMedia – Bupati Sidoarjo Subandi membahas revitalisasi pasar tradisional bersama koordinator dan pengelola pasar dalam audiensi di Pendopo Delta Wibawa, Sidoarjo. Pertemuan itu membahas pengelolaan retribusi pasar, banyaknya kios kosong, hingga perbaikan sarana dan prasarana pasar tradisional.
Audiensi yang dihadiri Asisten Perekonomian dan Pembangunan Bahrul Amig serta Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Happy Setyaningtyas Astrawati itu juga menyoroti penurunan aktivitas di sejumlah pasar akibat menjamurnya pasar modern dan perubahan pola belanja masyarakat.
“Lakukan pemetaan untuk meningkatkan retribusi. Kami juga akan turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi pasar tradisional saat ini,” kata Subandi.
Berdasarkan data target dan realisasi retribusi selama lima tahun terakhir, target retribusi pasar pada 2024 tercapai. Namun, target retribusi tahun 2025 belum terpenuhi sehingga diperlukan langkah pembenahan dan inovasi dalam pengelolaan pasar tradisional.
Subandi juga mendorong penerapan sistem retribusi non-tunai yang dapat dikawal Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sidoarjo. Selain itu, pemerintah daerah akan menyiapkan dashboard pendataan pasar tradisional dan jumlah kios maupun lapak pedagang yang dapat diakses seluruh organisasi perangkat daerah.
Dalam pertemuan tersebut, pengelola pasar menyampaikan berbagai persoalan di lapangan, mulai dari kios kosong yang rusak, paving pasar yang mulai rusak, hingga saluran air yang tersumbat dan memicu genangan saat musim hujan.
Pengelola pasar menyebut anggaran sebesar Rp2,3 miliar telah dialokasikan untuk pengelolaan Pasar Taman, Sukodono, dan Wonoayu. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan paving, los basah, perbaikan pagar pasar, serta peninggian paving di depan Pasar Sukodono guna mengurangi dampak banjir.
Selain itu, Pasar Wonoayu bersama APLI dijadwalkan menggelar Gebyar Pasar Wonoayu pada 13-14 Mei untuk menghidupkan kembali aktivitas masyarakat di pasar tradisional. Sementara itu, Pasar Krian masih menghadapi persoalan tempat penampungan pasca kebakaran dan buruknya drainase pasar.
Di Pasar Wadungasri, tingkat okupansi kios konveksi di lantai dua disebut hanya mencapai sekitar 10 persen akibat maraknya penjualan daring dan keberadaan toko modern. Sedangkan pengelola Pasar Kedungrejo mulai melakukan branding dengan membersihkan area pintu masuk pasar agar lebih menarik bagi pengunjung.
“Kepala pasar harus bisa berinovasi agar kondisi pasar lebih baik sehingga pembeli dan penjual merasa nyaman. Bila perlu disediakan jaringan WiFi gratis agar transaksi jual beli bisa dilakukan secara online,” ujar Subandi.
Telusuri berita lain di Google News VNNMedia