Kadin Jatim Soroti Minimnya Adopsi Riset oleh Industri

SURABAYA, 15 MARET 2026 – VNNmedia – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menilai adopsi hasil riset oleh dunia industri masih sangat rendah, meski kapasitas penelitian di perguruan tinggi terus meningkat. Kondisi ini dinilai menjadi hambatan besar bagi transformasi ekonomi Jawa Timur yang berbasis inovasi.

Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, mengatakan sebagian besar riset di Indonesia, termasuk Jawa Timur, masih berhenti pada tahap publikasi dan belum banyak diterapkan menjadi produk atau solusi nyata di sektor industri.

“Selama ini banyak riset hanya berhenti di jurnal ilmiah. Padahal, yang dibutuhkan adalah riset yang bisa langsung diadopsi industri dan memberi dampak ekonomi,” ujar Adik dalam Dialog Strategis DRI Week Universitas Airlangga, Surabaya, Selasa (14/4/2026).

Jawa Timur Punya Potensi Besar, Tapi Inovasi Belum Maksimal
Adik menjelaskan, Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional. Pada 2025, PDRB provinsi ini mencapai Rp3.403 triliun dengan pertumbuhan ekonomi 5,33 persen.

Sektor industri pengolahan menyumbang sekitar 31 persen terhadap struktur ekonomi daerah, sementara konsumsi rumah tangga mendominasi hingga 60 persen. Selain itu, sektor transportasi dan logistik tumbuh lebih dari 9 persen, menegaskan peran Jawa Timur sebagai pusat manufaktur dan distribusi Indonesia Timur.

Namun, menurutnya, potensi besar tersebut belum sepenuhnya dioptimalkan karena lemahnya koneksi antara dunia riset dan kebutuhan industri.

Untuk mengatasi persoalan itu, Kadin Jatim mendorong perubahan paradigma dari model riset supply-driven menjadi demand-driven research.

Dalam pendekatan lama, topik riset lebih banyak ditentukan akademisi. Sementara dalam model baru, arah penelitian harus disusun berdasarkan kebutuhan nyata industri. “Pelaku industri harus lebih aktif menentukan arah riset. Kadin siap menjadi penghubung antara kampus dan industri,” tegas Adik.

Adik menjelaskan bahwa arah pengembangan riset di Jawa Timur kini difokuskan pada tujuh prioritas utama. Prioritas tersebut meliputi inovasi produk untuk meningkatkan nilai tambah industri pengolahan, inovasi proses produksi guna mendorong efisiensi dan produktivitas, serta inovasi pemasaran yang menitikberatkan pada digitalisasi dan perluasan pasar global.

Selain itu, pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) juga menjadi fokus penting untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Kadin Jatim juga menaruh perhatian pada penerapan prinsip keberlanjutan dan Environmental, Social, and Governance (ESG), penguatan tata kelola dan regulasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, serta pengembangan sumber daya manusia yang selaras dengan kebutuhan industri.

Sebagai langkah konkret, Kadin Jatim akan membentuk Industrial Problem Bank, yakni basis data yang memuat berbagai kebutuhan dan persoalan industri secara terstruktur agar dapat dijadikan acuan dalam penyusunan riset.

Selain itu, akan dibentuk Joint Research Task Force yang melibatkan Kadin, perguruan tinggi seperti Universitas Airlangga, serta lembaga riset nasional seperti BRIN dan BRIDA.

Program ini juga akan diperkuat dengan proyek percontohan hilirisasi riset melalui komersialisasi hasil penelitian, inkubasi inovasi, hingga adopsi langsung oleh industri.

Adik menegaskan, kolaborasi akademisi, pemerintah, dan industri menjadi kunci agar riset di Jawa Timur tak lagi hanya menghasilkan jurnal ilmiah, tetapi juga solusi nyata yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

“Tujuan akhirnya adalah menciptakan ekosistem inovasi terintegrasi, di mana riset benar-benar menjadi motor penggerak daya saing industri Jawa Timur,” pungkasnya.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News