Batik Kelor Khas Desa Kepulungan Gempol Punya Filosofi Pancasila

PASURUAN, 2 Maret 2026 – VNNMedia – Semua daerah di Indonesia, punya ciri khas batiknya masing-masing. Motif kuat yang menandakan asal atau potensi daerah itu sendiri.

Di Kabupaten Pasuruan, tepatnya di Dusun Betas, Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol, ada puluhan ibu-ibu yang memproduksi batik kelor. Ya, motif daun kelor yang diambil dari potensi tanaman kelor yang tumbuh banyak hampir di setiap rumah warga

Dari tahun 2021, geliat membatik di Desa Kepulungan mulai terlihat berkat support salah satu perusahaan di Gempol yang memberikan pelatihan hingga akhirnya menjadi mandiri, membuat karya batik sendiri. 

Solikhah, salah satu pembatik di Kepulungan menuturkan, saat akhir Pandemi, PT Sorini di Gempol memberikan pelatihan membatik kepadanya mauun beberapa warga di RT 8 RW 10. Dari situlah tergerak hati untuk memproduksi sendiri sekaligus memberanikan diri untuk menjual produk buatannya.

“Kami terima kasih sekali dengan PT Sorini yang membantu kami melatih sampai kami bisa membatik. Jasanya luar biasa,” ungkapnya. 

Dari pertama hingga seluruh batik buatannya, semuanya ada motif batik dengan gambar lima buah daun bercabang. Motif inilah yang jadi ciri khas desa ini. 

“Ada filosofi dibalik arti lima daun kelor ini. Rukun islam khan ada lima. Pancasila juga lima sila, semoga batik canting cantik wong pulungan ini terus bertahan,” terangnya. 

Untuk membuat sebuah karya batik, ada banyak proses yang harus dilewati. Mulai dari pembuatan desain, mencanting, mewarnai, pencelupan  sampai pelunturan malam. Semuanya dilakukan dengan teliti dengan dibantu 19 ibu-ibu yang tergabung dalam komunitas.

“Sebenarnya total ada 20 orang, tapi ya gak bisa semuanya, karena ada yang jadi kader PKK, posyandu dan lainnya. Kadang ada kegiatan lain, tapi ya kadang kumpul semua,” imbuhnya. 

Kini, batik kelor yang dinamai ” Batik Canting Cantik Wong Pulungan” ini siap jadi buah tangan para pengunjung yang ingin datang ke sana. Soal harga, jangan tanya. Masih terjangkau mulai dari 250 ribu sampai yang termahal 500 ribu, sesuai pepatah jawa, ada harga, ada rupa.

Kepala Desa Kepulungan Didik Hartono menjelaskan, ini adalah upaya memberikan kesempatan bagi perempuan Desa Kepulungan untuk belajar membatik.

Menurutnya, dalam pelaksanaannya, pihaknya mendapatkan bantuan dari pihak swasta di sekitar perusahaan dalam hal pelatihan membatik.

Dia juga berharap, melalui bekal membatik ini, masyarakatnya bisa lebih sejahtera dan berdaya saing melalui produk unggulannya.

“Hampir setiap dusun ada perwakilannya. Nanti ke depan, pelatihan batik ini akan kami ratakan. Jadi semua masyarakat bisa membatik sendiri,” paparnya.

Telusuri berita lain di Google News VNNMedia