Riset Bongkar Lima Mitos UMKM, Pelaku Usaha Kuliner Diajak Naik Kelas

SURABAYA, 12 APRIL 2026 – VNNMedia – Upaya mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) naik kelas terus diperkuat. Polytron bersama Populix meluncurkan riset bertajuk “UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level” di Surabaya, yang mengungkap sejumlah mitos keliru yang selama ini diyakini pelaku usaha dan justru kerap menghambat pertumbuhan bisnis.

Peluncuran riset tersebut dibarengi pelatihan khusus bagi pelaku UMKM kuliner untuk membantu mereka memahami strategi pengembangan usaha berbasis data dan kondisi nyata di lapangan.

Head of Public Relations Polytron Indonesia, Kenny Meigar, mengatakan hasil riset menunjukkan sekitar 80 persen pelaku UMKM di Indonesia masih berada pada tahap perintis. “Sebanyak 57 persen pelaku usaha memulai bisnis karena ingin mandiri, sedangkan 46 persen terdorong melihat peluang pasar yang menjanjikan,” ujarnya.

Riset ini juga mencatat dominasi generasi muda sangat kuat, dengan 65 persen pelaku UMKM berasal dari kalangan Gen Z dan milenial. Namun, sebagian besar masih mengandalkan modal pribadi dan keuntungan usaha yang diputar kembali.

Dalam riset tersebut, Polytron dan Populix menemukan lima mitos utama yang sering dipercaya pelaku UMKM, tetapi tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas bisnis.

Salah satu mitos paling umum adalah anggapan bahwa membuka banyak cabang merupakan tanda utama kesuksesan. Faktanya, banyak UMKM justru kesulitan berkembang karena belum memiliki sistem operasional dan SOP yang matang.

Mitos lain terkait akses modal juga dipatahkan. Kesulitan memperoleh pinjaman dinilai bukan semata karena terbatasnya akses pembiayaan, melainkan rendahnya literasi keuangan, seperti belum mampu menyusun laporan keuangan dan arus kas secara profesional.

Selain itu, menaikkan harga produk juga bukan solusi utama untuk meningkatkan keuntungan. Tantangan terbesar UMKM justru terletak pada pengelolaan SDM dan efisiensi operasional, terutama karena sebagian besar hanya memiliki satu hingga dua karyawan.

Riset juga menyoroti bahwa omzet besar belum tentu menjamin bisnis aman. Banyak UMKM mengalami kerugian akibat biaya tersembunyi seperti kerusakan alat produksi yang menghambat operasional usaha.

Menjawab temuan tersebut, Polytron memperkenalkan empat pilar utama agar UMKM bisa berkembang lebih sehat, yakni penguatan konsep bisnis, penerapan sistem yang rapi, investasi aset jangka panjang, dan ekspansi yang terukur.

Brand Activist Radityo Suryo Hartanto menekankan pentingnya branding dalam persaingan bisnis modern. “Produk bagus saja tidak cukup. Tanpa identitas yang jelas, bisnis sulit dibedakan di pasar yang padat. Pelaku UMKM harus menjual nilai, bukan sekadar produk,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kemasan berperan penting sebagai “silent sales” yang membangun persepsi dan kepercayaan konsumen.

Pengalaman nyata juga dibagikan Founder Nichi Nichi by Farine, Jessica Hartono, yang membangun bisnis dari dapur rumah hingga menjadi salah satu oleh-oleh populer di Surabaya. “Produk bisa ditiru, tapi rasa percaya terhadap brand tidak bisa digantikan,” kata Jessica.

Menurutnya, konsistensi menjaga nilai brand menjadi fondasi utama keberhasilan, termasuk investasi pada kemasan sebagai alat komunikasi dengan pelanggan.

Head of Public Communications Polytron, Vina Julita Wijaya, menegaskan bahwa perusahaan tidak berhenti pada riset saja, tetapi juga menghadirkan solusi nyata melalui program “UMKM Naik Level bareng Polytron”.

Program ini mencakup dukungan perangkat usaha, kelas edukasi gratis, hingga peluang promosi melalui food vlogger nasional. Selain itu, pelaku usaha juga dapat bergabung dalam komunitas POLYPRENEURS untuk mendapatkan akses pelatihan berkelanjutan, peluang kolaborasi, dan dukungan ekspansi bisnis.

“Harapannya, pelaku UMKM tidak berjalan sendiri, tetapi memiliki support system yang kuat untuk berkembang secara berkelanjutan,” ujar Vina.

Baca Berita Menarik Lainnya di Google News