
MOJOKERTO, 23 APRIL 2026 – VNNMedia – Di balik industri cokelat yang terus tumbuh, brand lokal Cokelat Mojopahit menghadirkan pendekatan berbeda: membangun bisnis dari hulu ke hilir sekaligus mengangkat nilai ekonomi kakao lokal.
Tak seperti produsen makanan ringan pada umumnya, perjalanan bisnis ini justru berawal dari sektor pariwisata desa sejak 2004. CTO Cokelat Mojopahit, Alif Wahyu Dewa, menyebut potensi kakao mulai dilirik saat melihat rendahnya nilai jual biji kakao mentah di tingkat petani.
“Dari wisata desa, kami melihat kakao punya potensi besar jika diolah, bukan hanya dijual mentah,” ujarnya.
Langkah tersebut kemudian berkembang menjadi ekosistem berbasis kakao dengan melibatkan petani lokal. Warga yang sebelumnya tidak menanam kakao mulai beralih, hingga terbentuk desa berbasis komoditas tersebut.
Transformasi bisnis semakin nyata saat perusahaan mulai masuk ke industri pengolahan pada 2018. Dengan mengusung nama “Mojopahit” yang terinspirasi dari sejarah Kerajaan Majapahit, brand ini menggabungkan identitas lokal dengan strategi pemasaran.
Tidak hanya menjual produk, Cokelat Mojopahit mengontrol seluruh rantai produksi, mulai dari fermentasi biji kakao, pengeringan, sortasi, hingga pengolahan menjadi cokelat siap konsumsi. Pendekatan ini memungkinkan kualitas produk lebih terjaga sekaligus meningkatkan nilai tambah.
Di tengah dominasi cokelat massal, mereka memilih fokus pada produk couverture, kategori cokelat premium dengan kandungan kakao tinggi. Segmen ini dinilai memiliki peluang besar meski masih minim pemain di pasar domestik.
Namun, tantangan utama bukan pada produksi, melainkan edukasi pasar. Banyak konsumen masih menganggap cokelat sebagai produk kurang sehat, padahal cokelat murni memiliki nilai gizi jika diolah dengan tepat.
Untuk menjawab hal tersebut, perusahaan aktif melakukan edukasi sekaligus inovasi produk, termasuk menghadirkan varian jajanan cokelat yang lebih dekat dengan selera masyarakat Indonesia.
Menariknya, model bisnis juga diperkuat melalui wisata edukasi. Pengunjung dapat melihat langsung proses produksi hingga mencoba membuat cokelat, menciptakan pengalaman yang memperkuat brand sekaligus meningkatkan nilai ekonomi.
Di tengah posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kakao dunia, Alif menilai persoalan utama ada pada hilirisasi. Selama ini, kakao berkualitas justru lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah.
“Sayang jika kita hanya menjual bahan baku. Nilai tambah seharusnya bisa dinikmati di dalam negeri,” katanya.
Untuk distribusi, Cokelat Mojopahit juga memanfaatkan layanan logistik dari JNE guna menjangkau pasar lebih luas di luar daerah.
Dengan strategi terintegrasi, inovasi produk, dan penguatan identitas lokal, Cokelat Mojopahit menjadi contoh bagaimana UMKM dapat naik kelas—tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi berbasis komoditas lokal.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News