
Berlin, Selasa 21 April 2026-VNNMedia- Wacana Presiden AS Donald Trump untuk melakukan operasi militer ke Kuba dikecam Kanselir Jerman Friedrich Merz
baca juga: Trump Sebut Kuba jadi Target Berikutnya Setelah Venezuela dan Iran
Merz menganggap Trump tidak punya alasan kuat untuk menyerang Kuba. “Tidak ada alasan yang jelas untuk menginvasi Kuba. Terlepas dari berbagai masalah politik dalam negeri yang dihadapi negara-negara di bawah rezim komunis, Kuba tidak menimbulkan ancaman nyata bagi negara lain di luar wilayahnya,” tegas Merz
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa negara dengan kekuatan militer besar tetap tidak berhak menyerang negara lain yang dianggap mempunyai pandangan politik berbeda. “Memiliki kemampuan dalam pertahanan tidak berarti berhak untuk melakukan intervensi militer terhadap negara lain hanya karena sistem politiknya berbeda,” imbuhnya
Meski begitu, Merz ragu Trump akan merealisasikan rencana invasinya ke negara yang saat ini dilanda berbagai krisis itu. “Saya menilai saat ini Amerika Serikat juga tidak memiliki alasan untuk melancarkan operasi semacam itu,” pungkasnya
Multi Krisis Kuba dan Blokade AS
Kuba saat ini menghadapi situasi yang sangat kritis akibat kombinasi berbagai masalah yang saling berkaitan. Masalah utama yang paling terasa adalah krisis energi yang parah setelah pengetatan blokade pengiriman minyak oleh AS ke pulau tersebut
Hal ini menyebabkan sistem kelistrikan nasional sering mengalami kegagalan total, yang mengakibatkan pemadaman listrik massal selama berhari-hari di seluruh negeri. Kelangkaan bahan bakar ini juga melumpuhkan sektor transportasi dan distribusi barang kebutuhan pokok
Dampak dari ketiadaan energi tersebut meluas ke sektor kesehatan dan layanan publik lainnya. Banyak rumah sakit kesulitan menjalankan prosedur medis penting karena kendala daya, sementara sistem pompa air yang membutuhkan listrik berhenti berfungsi sehingga sekitar satu juta warga terpaksa bergantung pada pengiriman air melalui truk tangki
Situasi ini diperburuk oleh sisa kerusakan infrastruktur akibat badai tahun lalu yang belum sempat diperbaiki sepenuhnya.
Di sisi ekonomi, warga menghadapi kelangkaan pangan yang ekstrem karena sistem distribusi ransum negara terhambat oleh masalah logistik. Secara internasional, kondisi ini memicu ketegangan geopolitik karena banyak negara mengecam pengetatan sanksi yang dianggap memperparah krisis kemanusiaan tersebut
Meskipun ada bantuan darurat dari negara sahabat seperti Rusia, China, dan Meksiko, bantuan tersebut belum mampu menutupi kebutuhan dasar masyarakat yang semakin mendesak
Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News