
SURABAYA, 8 MARET 2026 – VNNMedia – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur melakukan pengecekan terhadap 71 unit Early Warning System (EWS) yang tersebar di sejumlah wilayah rawan bencana.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan sistem peringatan dini tetap berfungsi optimal di tengah potensi cuaca ekstrem yang masih terjadi di wilayah Jawa Timur.
Total EWS yang diperiksa terdiri dari 27 titik EWS banjir, 27 titik EWS longsor, serta 17 sirine tsunami. Pemeriksaan dilakukan dengan mengecek kondisi fisik alat sekaligus memastikan sistemnya dapat berfungsi dengan baik sebagai peringatan dini bagi masyarakat.
Kegiatan pengecekan dimulai dari Kabupaten Banyuwangi, tepatnya di Pantai Rajegwesi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, yang memiliki sirine peringatan tsunami. Selanjutnya tim BPBD melanjutkan pengecekan ke beberapa daerah lain seperti Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek hingga Pacitan.
Kepala Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Jember, H. Abdul Ghafur, mengatakan keberadaan EWS banjir sangat membantu warga setempat yang tinggal di kawasan dekat sungai.
Menurutnya, sekitar 800 kepala keluarga di dua dusun kerap mendapatkan peringatan dini ketika debit air sungai mulai meningkat. “Warga kami sering mendapat peringatan dini saat debit air sungai naik. Alarm dari EWS sangat membantu mengingatkan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagian warga masih memiliki kebiasaan beraktivitas di sungai, sehingga keberadaan alarm dari EWS menjadi pengingat penting agar mereka segera menjauh ketika air mulai naik.
Hal serupa juga disampaikan perangkat Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Candra Kristianto. Ia menilai EWS longsor yang terpasang di kaki Bukit Kelopo Kembar efektif memberikan peringatan kepada masyarakat.
“Suara alarmnya cukup keras dan bisa terdengar hingga perempatan desa yang jaraknya lebih dari satu kilometer,” katanya.
Manfaat EWS juga dirasakan warga pesisir. Heri, warga Desa Mojomulyo, Kecamatan Puger, Jember, mengatakan sirine dan pengeras suara dari EWS tsunami di Pantai Cemara sering digunakan untuk mengingatkan pengunjung agar tetap waspada saat berada di pantai.
“Speaker itu sering kami gunakan untuk mengingatkan pengunjung, terutama yang membawa anak-anak, agar tetap mengawasi mereka saat bermain di pantai,” ujarnya.
Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Lumajang, Sultan Syafaat, menjelaskan di wilayah Lumajang terdapat empat unit EWS milik BPBD Jatim, meliputi EWS banjir, longsor, dan sirine tsunami.
Menurutnya, sistem peringatan dini tersebut sangat penting untuk memberikan informasi awal kepada masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.
“Yang paling penting adalah pemeliharaan dan pengecekan berkala seperti yang dilakukan saat ini agar alat tetap berfungsi dengan baik,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menegaskan bahwa pengecekan EWS dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana selama cuaca ekstrem.
Ia juga mengimbau masyarakat, relawan, serta personel BPBD di kabupaten/kota untuk terus meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang rawan banjir, longsor, dan tsunami.
“Selain masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan, kami juga memastikan peralatan EWS dalam kondisi baik dan kesiapsiagaan personel BPBD terus ditingkatkan,” ujar Gatot dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).
Gatot menambahkan, meskipun kondisi EWS sebenarnya dapat dipantau melalui dashboard pemantauan di kantor BPBD, pengecekan langsung di lapangan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi riil perangkat di lokasi.
Ia berharap kolaborasi antara masyarakat, relawan, dan pemerintah daerah dapat terus diperkuat guna mengurangi risiko bencana di tengah kondisi cuaca ekstrem yang masih berlangsung di Jawa Timur.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News