
Canberra, Senin 11 Agustus 2025-VNNMedia- Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengumumkan bahwa Australia akan secara resmi mengakui negara Palestina dalam Majelis Umum PBB pada bulan September
Langkah ini, yang mengikuti jejak negara-negara seperti Inggris, Prancis, dan Kanada, bertujuan untuk memajukan solusi dua negara sebagai “harapan terbaik umat manusia untuk memutus siklus kekerasan di Timur Tengah.”
Albanese menyatakan keputusan ini diambil setelah menerima komitmen dari Otoritas Palestina (PA), termasuk demiliterisasi dan penyelenggaraan pemilihan umum. Ia juga menegaskan bahwa Australia mendapatkan jaminan dari Presiden PA Mahmoud Abbas bahwa Hamas tidak akan memiliki peran apa pun di pemerintahan Palestina di masa depan
Namun, keputusan ini langsung menuai kritik keras dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ia menyebut pengakuan negara Palestina sebagai “hadiah bagi terorisme” dan mengkritik negara-negara yang mengambil langkah tersebut. “Melihat negara-negara Eropa dan Australia masuk ke lubang kelinci itu… sungguh mengecewakan dan menurut saya sungguh memalukan,” kata Netanyahu
Langkah Australia ini muncul di tengah tekanan internasional yang meningkat terhadap Israel untuk mengakhiri perang di Gaza. Sejak dimulainya serangan Israel pada tahun 2023 sebagai respons terhadap serangan Hamas, lebih dari 61 ribu orang dilaporkan tewas di Gaza. Kementerian kesehatan yang dikelola Hamas juga melaporkan bahwa lima orang meninggal akibat kelaparan dan kekurangan gizi dalam beberapa hari terakhir
Pengakuan Australia ini menambah daftar panjang negara yang mengakui Palestina. Saat ini, 147 dari 193 negara anggota PBB telah mengakui Palestina sebagai sebuah negara. Namun, Palestina masih berstatus “negara pengamat tetap” di PBB, yang memungkinkannya berpartisipasi tetapi tidak memiliki hak suara
Berbeda dengan Australia, Amerika Serikat menegaskan bahwa mereka tidak akan mengambil langkah serupa, dengan alasan kurangnya pemerintahan Palestina yang berfungsi dan kekhawatiran bahwa pengakuan semacam itu hanya akan menguntungkan Hamas
sumber: BBC
Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News