
JAKARTA, 30 AGUSTUS 2025 – VNNMedia – PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (XLSMART) mencatatkan kinerja positif pada kuartal kedua 2025 pasca-merger. Perseroan membukukan pendapatan Rp10,50 triliun, tumbuh 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (YoY). Secara kumulatif, pendapatan semester I 2025 mencapai Rp19,10 triliun.
Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (Normalized EBITDA) tercatat sebesar Rp4,97 triliun dengan margin 47%, sementara laba bersih yang dinormalisasi (Normalized PAT) mencapai Rp313 miliar. Kontribusi layanan data dan digital mendominasi, mencapai 91% dari total pendapatan.
Presiden Direktur & CEO XLSMART, Rajeev Sethi, menyebut kuartal kedua 2025 menjadi fase penting pasca-merger.
“Kami menghadapi tantangan internal dan eksternal. Kompetisi industri tetap ketat, sementara kami harus memastikan integrasi berjalan lancar dan layanan kepada pelanggan tetap optimal,” jelasnya.
XLSMART fokus pada konsolidasi, integrasi jaringan, dan modernisasi infrastruktur untuk memperluas kapasitas serta memanfaatkan teknologi terbaru. Dengan strategi multi-brand dan jaringan yang lebih luas, perseroan menargetkan posisi kuat sebagai motor transformasi digital Indonesia.
Hingga akhir Q2 2025, jumlah pelanggan XLSMART mencapai 82,6 juta, dengan ARPU campuran stabil di Rp36 ribu. Dari sisi digitalisasi layanan, aplikasi MyXL, AXISNet, dan mySmartfren mencatat 41,4 juta pengguna aktif bulanan (MAU), tumbuh 29% YoY, dan kontribusinya terhadap pendapatan naik 18% dalam dua tahun terakhir.
Di sisi operasional, XLSMART terus menekan biaya pemasaran melalui strategi digitalisasi, meskipun beban operasional total naik akibat integrasi pasca-merger. Belanja modal (Capex) mencapai Rp2,3 triliun pada semester I dari total alokasi Rp20–25 triliun untuk 2025, termasuk mendukung integrasi jaringan.
Hingga akhir Juni 2025, XLSMART memiliki 209 ribu BTS, naik 28% YoY, dengan trafik layanan tumbuh 43% YoY hingga mencapai 3.817 petabyte. Sementara itu, kondisi keuangan tetap sehat dengan utang bersih Rp21,93 triliun, net debt-to-EBITDA 3,53x, dan free cash flow (FCF) naik 35% YoY menjadi Rp6,48 triliun.
Rajeev menegaskan, fokus ke depan adalah mempercepat transformasi digital, meningkatkan kualitas jaringan, dan menghadirkan layanan bernilai tambah bagi seluruh pelanggan.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News