
Washington DC, 16 Maret 2025-VNNMedia- Pada Sabtu (15/3) ratusan karyawan Voice of America (VOA), radio Free Asia, radio Free Europe bersama beberapa media lainnya yang selama ini operasionalnya didanai oleh Amerika Serikat (AS) menerima email yang melarang mereka untuk memasuki kantor, mengembalikan kartu pers dan perlengkapan kantor lainnya seperti laptop
Kenyataan pahit tersebut harus diterima karena Trump telah menandatangani perintah eksekutif membekukan sejumlah media- media yang selama ini didanai oleh pemerintah. Dalam perintah itu disebutkan bahwa Badan Media Global sebagai salah satu ‘elemen birokrasi federal yang telah ditetapkan oleh Presiden sebagai hal yang tidak diperlukan
Direktur VOA, Michael Abramowitz mengatakan bahwa dirinya termasuk dalam karyawan 1.300 karyawan VOA yang dipaksa cuti pada 15 Maret. Melalui Facebook, ia menuliskan jika VOA membutuhkan reformasi yang matang, dan mereka telah membuat kemajuan. Namun email yang diterima pada Sabtu kemarin membuyarkan segalanya. Sementara pimpinan radio Free Europe, Stepphen Capus, menyebutkan pembekuan media menjadi ‘hadiah besar bagi musuh-musuh Amerika’
Kelompok Advokasi Reporters Without Borders mengecam tindakan Trump itu dengan mengatakan bahwa keputusan pembekuan sejumlah media merupakan ancaman terhadap kebebasan pers di dunia dan meniadakan 80 tahun sejarah Amerika dalam mendukung arus informasi yang bebas
Sementara senator Demokrat untuk Komite Urusan Luar Negeri, Gregory Meeks, dan senator senior Demokrat lainnya Lois Frankel, dalam pernyataan bersama mengungkapkan bahwa Trump telah menyebabkan kerusakan abadi pada upaya AS untuk melawan propaganda di seluruh dunia
Salah satu karyawan radio Free Asia mengatakan bahwa mereka tidak takut akan kehilangan penghasilan. Namun mereka khawatir akan nasib rekan-rekan mereka yang berasal dari luar negeri yang kemungkinan akan menghadapi deportasi jika visa kerjanya tidak berlaku lagi
“Memusnahkan kita dengan goresan pena adalah hal yang mengerikan,” pungkasnya
sumber: The Straits Times
Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News