
Beijing, 04 Mei 2025-VNNMedia- Di tengah meningkatnya jumlah populasi lajang China, sebuah tren kencan baru yang unik dan interaktif muncul di kalangan anak muda: kencan melalui siaran langsung (live streaming). Frustrasi dengan metode kencan tradisional dan aplikasi kencan konvensional, banyak yang beralih ke ruang obrolan video yang dipandu oleh “mak comblang dunia maya,” di mana ribuan pemirsa dapat menyaksikan dan berkomentar secara langsung
Fenomena ini muncul seiring dengan data pemerintah China yang mencatat rekor tertinggi jumlah penduduk lajang berusia di atas 15 tahun, mencapai 240 juta jiwa pada tahun 2023. Pemerintah pun aktif mendorong pernikahan dan peningkatan angka kelahiran untuk mengatasi masalah demografi. Bahkan, Dewan Negara telah mengamanatkan pemerintah daerah untuk membangun berbagai platform kencan bagi kaum muda.
Kisah Steve Chen, seorang pria berusia 25 tahun, menjadi salah satu contoh bagaimana tren ini bekerja. Belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya dan merasa kesulitan berkencan karena sifat pemalu, Steve menemukan cinta pertamanya melalui sebuah obrolan video yang disiarkan langsung. Ia, yang dulunya menyebut dirinya “mutai solo” (istilah gaul untuk lajang sejak lahir), kini memiliki seorang pacar berkat platform daring ini
Ruang obrolan video tempat Steve bertemu kekasihnya diselenggarakan oleh Tian Xin, seorang “mak comblang dunia maya” yang telah aktif menyiarkan langsung kencan grup virtual di Xiaohongshu (RedNote) selama lebih dari setahun. Di siang hari, Tian bekerja di perusahaan teknologi, namun di malam hari ia bertransformasi menjadi seorang pencari jodoh yang handal, mencairkan suasana, melontarkan lelucon, memoderasi percakapan, dan memberikan nasihat cinta kepada lebih dari 130 ribu pengikutnya
Dalam salah satu siaran langsung Tian di suatu malam minggu, lebih dari 800 pemirsa menyaksikan delapan peserta yang wajahnya tertampil dalam kotak-kotak di layar, sementara belasan lainnya mengantre secara virtual. Tian memulai sesi dengan menanyakan serangkaian pertanyaan standar kepada setiap peserta, mulai dari usia, berat badan, tinggi badan, pekerjaan, penghasilan, lokasi, zodiak, hobi, hingga kriteria pasangan ideal
Interaksi menarik pun terjadi, termasuk saat seorang guru olahraga unjuk kebolehan ototnya di depan kamera, yang disambut riuh komentar dan emoji dari para penonton. Setelah sesi perkenalan, para peserta melanjutkan obrolan santai tentang kehidupan sehari-hari dan pekerjaan mereka, bahkan sambil melakukan rutinitas malam seperti membersihkan riasan atau makan malam
Bagi Steve, seorang mahasiswa kedokteran yang menjalani program residensi, kencan virtual menjadi solusi praktis di tengah padatnya jadwal. “Tekanan belajar dan bekerja sangat kuat. Saya tidak punya waktu untuk bersosialisasi dan mencari teman,” ujarnya. Laporan dari iiMedia Research tahun 2025 menunjukkan bahwa lebih dari 30% anak muda lajang di China merasakan hal serupa akibat jam kerja yang panjang
Tren kencan live streaming ini menawarkan alternatif yang menarik dibandingkan perjodohan tradisional atau aplikasi kencan. Christine Zhang, seorang pengguna aktif siaran langsung Tian, mengatakan bahwa format ini lebih menyenangkan dan interaktif. “Anda dapat melihat lebih dari sekadar foto profil. Anda dapat melihat bagaimana seseorang berbicara dan bertindak,” katanya.
Zhang sendiri bertemu Steve, yang juga merupakan pelanggan tetap siaran langsung Tian, saat ia memberanikan diri mengungkapkan perasaannya di depan ratusan pemirsa. Keberaniannya membuat para peserta lain dan pengikut Tian terkesan. Sang mak comblang pun menjodohkan mereka untuk berbicara lebih lanjut di luar siaran langsung, yang berujung pada pertemuan tatap muka beberapa bulan kemudian dan kini mereka telah menjalin hubungan serius
Keduanya merasa beruntung menemukan cinta melalui cara yang tidak konvensional ini. “Menemukan cinta itu sulit. Saya harus mengumpulkan keberanian untuk berbagi perasaan saya di depan kamera,” kata Zhang. “Saya pikir hanya mereka yang berani yang dapat menemukan cinta.”
Fenomena kencan live streaming ini menunjukkan bagaimana teknologi terus mengubah cara manusia berinteraksi dan mencari koneksi di era digital, terutama di tengah tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi generasi muda China, melansir Japan Today
Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News