Aksi Massa di Kantor Microsoft, Desak Penghentian Kemitraan dengan Israel

Redmond, Rabu 27 Agustus 2025-VNNMedia- Pada Senin (25/8) kantor Microsoft di Redmond Washington, diserbu oleh massa pendemo yang tergabung dalam kelompok “No Azure for Apartheid”, beberapa diantaranya bahkan menerobos masuk ke ruang kerja Presiden Microsoft Bram Smith

Kelompok anti Israel itu memprotes kerjasama perusahaan teknologi itu dengan Israel. Media TechCrunch dalam laporan hari Selasa mengatakan bahwa kelompok itu selain membawa spanduk dan meneriakan, “Bram Smith, kau tidak bisa bersembunyi, kau mendukung genosida!”, mereka juga juga menyiarkannya secara langsung melalui Twitch -platform live streaming yang populer, terutama di kalangan komunitas video game

Tidak hanya itu, pendemo juga mengunggah surat tiruan panggilan pengadilan yang mendakwa Smith telah melakukan kejahatan kemanusiaan. Menurut The Verge, aksi demo pada hari Senin tersebut juga diikuti oleh karyawan dan mantan karyawan Microsoft

Diketahui sejak eskalasi konflik di Timur Tengah, Microsoft menjadi salah satu target utama unjuk rasa global. Demonstrasi ini tidak terjadi dalam satu waktu, melainkan berlanjut selama beberapa bulan terakhir

Pada Oktober 2023, para aktivis dan karyawan Microsoft mulai melakukan protes internal, menyuarakan keprihatinan mereka terhadap keterlibatan perusahaan dalam proyek teknologi Israel. Puncaknya terjadi pada awal 2025 ketika laporan investigasi yang bocor mengungkap detail kontrak Microsoft dengan militer Israel. Hal ini memicu gelombang protes yang lebih besar

Pada April, ketegangan memuncak saat beberapa karyawan dipecat setelah berani menginterupsi perayaan ulang tahun Microsoft. Aksi serupa berlanjut pada bulan Mei di mana seorang karyawan dipecat karena menginterupsi pidato CEO Satya Nadella

Sebagai informasi protes terhadap Microsoft terkait kerja sama dengan Israel berpusat pada kekhawatiran bahwa teknologi perusahaan, terutama layanan cloud dan kecerdasan buatan (AI), digunakan oleh militer Israel untuk tujuan yang dianggap melanggar hak asasi manusia

Hasil investigasi The Guardian menyebut bahwa layanan MIcrosoft digunakan pemerintah Israel untuk menyimpan data jutaan panggilan telepon harian dari warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat

Mengutip dari blog Microsoft yang diperbarui pada 15 Agustus, mengatakan bahwa perusahaan  sedang melakukan peninjauan formal atas tuduhan yang dilaporkan oleh The Guardian pada 6 Agustus 2025, terkait penggunaan Microsoft Azure oleh sebuah unit Pasukan Pertahanan Israel (IDF)

Microsoft akan meminta bantuan firma hukum Covington & Burling LLP, dengan bantuan teknis dari firma konsultan independen, untuk melakukan peninjauan. Peninjauan ini akan memperluas tinjauan perusahaan sebelumnya, yang tidak mengidentifikasi penggunaan apa pun oleh IDF yang melanggar ketentuan layanan perusahaan

Selain itu, Microsoft mengapresiasi laporan terbaru The Guardian yang mengangkat tuduhan tambahan dan akurat yang memerlukan peninjauan menyeluruh dan mendesak. Perusahaan akan membagikan temuan faktual yang dihasilkan dari peninjauan tersebut kepada publik setelah selesai

sumber: Antara/Microsoft

Baca Berita Menarik Lainnya Di Google News